Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bank Mandiri Proyeksi Ekonomi Kuartal I 2026 Tembus di Atas 5,4%

Bank Mandiri Proyeksi Ekonomi Kuartal I 2026 Tembus di Atas 5,4% Kredit Foto: Cita Auliana
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 akan berada di atas 5,4 persen. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan laju ekonomi pada awal tahun ini berpotensi setara dengan capaian kuartal sebelumnya, bahkan berpeluang meningkat tipis. Menurutnya, sejumlah indikator sementara menunjukkan momentum pertumbuhan masih cukup kuat.

“Pertumbuhan di kuartal I ini paling tidak, kalau tidak flat dengan kuartal IV (5,4 persen), kemungkinan sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025,” ujar Andry di Jakarta, Rabu (26/2/2026).

Baca Juga: Bos Mandiri Sekuritas Prediksi IHSG Bisa Sentuh 9.000

Salah satu faktor utama pendorong pertumbuhan adalah belanja pemerintah yang diperkirakan melonjak signifikan. Andry menyinggung pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut realisasi belanja negara pada kuartal I 2026 berpotensi mencapai sekitar Rp800 triliun.

“Artinya, kalau kuartal I Rp800 triliun, itu jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Kuartal I tahun lalu belanjanya sekitar Rp600 triliun,” tambahnya.

Kenaikan belanja negara tersebut dinilai akan memberikan efek dorong yang besar terhadap aktivitas ekonomi, terutama karena adanya low base effect. Pada periode awal tahun sebelumnya, belanja pemerintah masih tertahan akibat proses konsolidasi dan efisiensi anggaran.

“Karena low base effect, tahun lalu belanja pemerintah masih tertahan karena konsolidasi,” terangnya.

Selain belanja pemerintah, Andry menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh faktor musiman. Periode Hari Besar Keagamaan Nasional, yakni Ramadan dan Idulfitri yang jatuh pada Februari hingga Maret 2026, diperkirakan mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga.

“Karena ada faktor seasonal, yaitu Ramadan dan Lebaran, artinya konsumsi akan tinggi,” ujarnya.

Baca Juga: Purbaya Perpanjang Penempatan Dana Rp200 triliun, Bank Mandiri Nilai Redakan Persaingan Likuiditas

Sebagai catatan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah insentif ekonomi yang akan diberlakukan selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026. Stimulus tersebut meliputi diskon tiket transportasi udara dan laut, serta potongan tarif tol.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan skema Bantuan Pangan berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng per bulan bagi sekitar 35,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Total anggaran program ini diperkirakan mencapai Rp11,92 triliun dan akan disalurkan sekaligus untuk dua bulan pada awal Ramadan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: