Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kenaikan Biaya Kesehatan Kerek Kualitas Layanan dan Harapan Hidup Masyarakat

Kenaikan Biaya Kesehatan Kerek Kualitas Layanan dan Harapan Hidup Masyarakat Kredit Foto: Unsplash/Jair Lázaro
Warta Ekonomi, Jakarta -

Istilah inflasi medis semakin sering terdengar di tengah masyarakat. Inflasi medis kerap dikaitkan dengan meningkatnya biaya layanan kesehatan, mulai dari biaya rawat inap, obat-obatan, hingga premi asuransi kesehatan. Kondisi ini kerap menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi masyarakat yang ingin tetap mendapatkan layanan kesehatan terbaik tanpa terbebani dengan biaya yang terus meningkat.

Namun, di balik kenaikan biaya medis tersebut, terdapat faktor pendorong utama yang juga membawa dampak positif, yaitu perkembangan teknologi dan inovasi di bidang medis. Inovasi ini berperan besar dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan memperpanjang harapan hidup pasien.

Berbagai terobosan medis mulai dari alat diagnostik canggih, hingga terapi inovatif memerlukan investasi riset dan pengembangan yang besar. Hal inilah yang kemudian tercermin pada biaya perawatan medis yang meningkat.
Meski demikian, teknologi dan inovasi tersebut justru membuat proses perawatan medis menjadi lebih efektif, akurat, dan personal.

Dampak Positif Inovasi Medis bagi Pasien

Manfaat nyata inovasi medis dapat dilihat pada berbagai jenis pengobatan. Contoh, penyakit jantung yang menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia dan dunia, memerlukan penanganan yang tepat dan efektif. Dengan teknologi mutakhir, pasien dapat memperoleh penanganan yang lebih presisi, cepat, akurat, mengurangi risiko kematian, dan meningkatkan kualitas hidup. Teknologi bukan sekadar "tambahan", melainkan alat presisi yang memastikan bahwa setiap tindakan yang dilakukan adalah yang paling tepat bagi tubuh pasien.

Dahulu, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah bekerja dengan bantuan sinar-X (angiografi) yang menghasilkan gambar dua dimensi hitam-putih. Pemeriksaan ini sama seperti mencoba memperbaiki mesin mobil yang rumit hanya dengan melihat bayangannya di dinding. Sekarang rumah sakit memiliki teknologi baru, yakni:

1. Fractional Flow Reserve (FFR): Si Filter Cerdas

Seringkali sebuah sumbatan terlihat parah di layar tetapi secara fungsi aliran darahnya masih lancar. FFR menggunakan sensor tekanan setipis rambut untuk mengukur apakah benar sumbatan menghambat aliran darah. Apabila tidak, maka pasien tidak perlu dipasang stent/ring jantung. Di sinilah teknologi Fractional Flow Reserve (FFR) berperan.

Baca Juga: Lima Perusahaan Jadi Korban Asuransi Kesehatan, OJK Wajibkan Skema Risk Sharing

Menurut dr. Wishnu Aditya Widodo, Sp. J.P, Subsp. K.I, (K), FIHA selaku Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Kardiologi Intervensi RS Pondok Indah – Pondok Indah, “Dengan FFR, pasien terhindar dari prosedur yang tidak perlu. Dalam banyak kasus, teknologi ini mampu mengurangi jumlah stent jantung yang harus dipasang—misalnya dari rencana awal pemasangan tiga stent menjadi hanya satu stent. Hasil pemeriksaan lebih akurat dan presisi sehingga penanganan diberikan sesuai kondisi pasien. Pasien tidak memerlukan pemasangan stent/ring jantung yang berlebihan.”

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Fajar Sulaiman

Advertisement