- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Pemerintah Cermati Dampak Perang Timur Tengah ke Pasokan Energi Domestik
Kredit Foto: Istimewa
Pemerintah mencermati dampak eskalasi konflik di Timur Tengah, terhadap pasokan dan distribusi energi nasional.
Ketidakpastian geopolitik di kawasan tersebut dinilai masih tinggi, dan berpotensi menekan harga energi global.
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto mengatakan, pemerintah masih memantau perkembangan situasi, terutama dalam sepekan ke depan untuk melihat arah eskalasi ketegangan antara AS, Israel, dan Iran.
"Kita harus lihat dalam beberapa minggu ke depan ya, terutama seminggu ke depan ini bagaimana eskalasinya di sana."
"Kalau ini bisa selesai cepat, harusnya dampak ke sektor energi mungkin akan limited," katanya, saat ditemui selepas diskusi yang digelar Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Senin (2/3/2026).
Di tengah situasi tersebut, harga minyak mentah dunia naik ke kisaran US$78 per barel.
Seto menilai, jika konflik tidak berlarut-larut, lonjakan harga kemungkinan bersifat sementara.
"Tapi kalau ini berlarut-larut, ya itu yang dikhawatirkan, itu yang mungkin akan membuat kondisinya bisa lebih uncertain, dan volatilitas harga di energinya bisa akan lebih tinggi," ulas Seto.
Ia berkaca pada sejumlah konflik geopolitik sebelumnya, seperti perang Rusia-Ukraina maupun serangan Israel ke Iran tahun lalu, di mana harga minyak sempat melonjak, namun kembali terkoreksi setelah tensi mereda.
"Kalau kita lihat kemarin perang Rusia dan Ukraina, atau kemarin yang tahun lalu serangan Israel ke Iran kan sempat naik, spike, tapi langsung turun lagi."
"Jadi kita lihat lah, mungkin satu minggu ke depan," beber Seto.
Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pemerintah belum dapat memastikan potensi dampaknya terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) domestik.
Seto menyebut negara-negara importir minyak secara umum akan merasakan tekanan apabila harga minyak dunia terus meningkat.
Presiden Prabowo Subianto, lanjutnya, sejak awal telah mendorong pengurangan ketergantungan impor energi sebagai langkah mitigasi.
Salah satu instrumen yang ditempuh ialah mandatori biodiesel 40% (B40).
Baca Juga: Serangan AS ke Iran Ganggu Pasokan Minyak, Airlangga: Harga BBM Otomastis Naik
"Kalau strateginya Bapak Presiden dari awal kan kita sudah coba untuk mengurangi dependensi terhadap impor ya, salah satunya biodiesel dan segala macam."
"Saya kira itu salah satu langkah mitigasi ya, kita coba kurangi dependensi terhadap minyaknya," papar Seto. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: