Studi Oxford Economics: McDonald’s Indonesia Dukung Pertumbuhan Lapangan Kerja Lintas Sektor
Kredit Foto: McDonalds
Sebuah studi independen oleh Oxford Economics mencatat bahwa operasional McDonald’s Indonesia, yang dimiliki sepenuhnya oleh PT Rekso Nasional Food, telah berkembang menjadi sebuah ekosistem terintegrasi yang memberi dampak berlapis bagi perekonomian masyarakat.
Oxford Economics, firma penasihat ekonomi global terkemuka dan independen, melakukan analisis terhadap inisiatif ketenagakerjaan, pengadaan, dan kontribusi sosial dari McDonald's Indonesia.
Hasil studi menunjukkan bahwa sepanjang April 2024 hingga Maret 2025, untuk setiap 100 pekerja yang dipekerjakan secara langsung oleh McDonald’s Indonesia, mendukung 330 lapangan pekerjaan tambahan dari berbagai sektor ekonomi lokal, mulai dari pertanian, distribusi, hingga jasa pendukung.
Selain efek berantai (ripple effect) McDonald’s terhadap pasar tenaga kerja, studi ini juga menyoroti adanya efek pengganda (multiplier effect) terhadap PDB yang signifikan.
Setiap Rp1 juta nilai ekonomi langsung yang dihasilkan oleh McDonald’s Indonesia mendorong tambahan Rp4,9 juta aktivitas ekonomi di sektor-sektor lain, mencerminkan kontribusi berkelanjutan terhadap ekosistem bisnis yang lebih luas.
Baca Juga: Ekonomi RI Ekspansif hingga 2033, Purbaya Pastikan Lapangan Kerja Bertambah
“Hasil riset kami membuktikan besarnya kontribusi McDonald’s bagi dunia usaha dan komunitas lokal di seluruh Indonesia, yang turut mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, pengembangan waralaba, dan kemitraan dengan pemasok lokal,” ujar Stephen Foreman, Associate Director di Oxford Economics.
Temuan ini menegaskan peran McDonald’s Indonesia lebih dari sekadar jaringan restoran cepat saji. Melalui komitmen jangka panjangnya, perusahaan tumbuh bersama masyarakat melalui penciptaan akses kerja, penguatan talenta lokal, serta kemitraan jangka panjang dengan pelaku usaha dalam negeri.
“Selama lebih dari tiga dekade, kami membangun McDonald’s Indonesia sebagai bagian dari keseharian masyarakat. Semangat ‘Sepenuhnya Indonesia’ senantiasa menjadi landasan kami dalam memperkuat kemitraan lokal, membuka akses kerja, dan menghadirkan peluang bertumbuh bagi banyak pihak," jelas Michael Hartono, Director of Marketing, Communications, Digital, Strategy & Insight, McDonald’s Indonesia.
"Ke depan, kami ingin memastikan setiap langkah bisnis yang kami ambil terus menciptakan multiplier effect yang relevan, bermakna, dan berkelanjutan bagi ekonomi daerah maupun nasional,” tambahnya.
Saat ini, McDonald’s Indonesia mengoperasikan lebih dari 300 restoran di 94 kota dan dalam perkembangannya terus mengangkat nilai kekayaan budaya, cita rasa lokal, serta menjunjung tinggi nilai-nilai bangsa seperti kekeluargaan, kepercayaan, gotong royong, dan ketulusan.
Baca Juga: Tidak Menambah Lapangan Kerja, Rencana Impor 105 Ribu Mobil India Dinilai Justru Picu Gelombang PHK
Penguatan ekonomi lokal juga tercermin dari komitmen McDonald’s Indonesia terhadap rantai pasok domestik. Studi mencatat sebesar Rp3,8 triliun atau setara 86% dari total belanja pemasok dialokasikan kepada mitra lokal, mencakup sektor pertanian, peternakan, hingga manufaktur.
Sekitar 76% bahan baku restoran bersumber dari dalam negeri, termasuk bahan utama seperti ayam, sayuran, telur, beras, cabai, dan minyak goreng yang kini sepenuhnya diproduksi oleh pelaku usaha lokal.
“Selama 33 tahun bermitra, kolaborasi berlandaskan kepercayaan dengan McDonald’s Indonesia memberi kami ruang untuk tumbuh secara berkelanjutan. Dukungan nyata mulai dari peningkatan fasilitas, pembinaan operasional, hingga bantuan pembiayaan senantiasa diberikan sebagai bagian dari ekosistem yang saling mendukung," jelas Made Gunada, mitra pemasok lokal McDonald’s Indonesia.
"Dari usaha skala kecil di Bali, berkat kemitraan yang berkelanjutan, kini kami dapat memperluas cakupan operasional yang melibatkan ratusan petani di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur, serta dipercaya memasok lebih dari 50% restoran McDonald’s di Indonesia. Dampak ekonomi yang tercipta tidak hanya dirasakan kami pelaku usaha, tetapi juga oleh para petani di daerah,” imbuhnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: