Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

SIG Tetapkan 31 Hektare Tambang Jadi Kawasan Konservasi

SIG Tetapkan 31 Hektare Tambang Jadi Kawasan Konservasi Kredit Foto: SIG
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) bersama anak usahanya PT Semen Tonasa menetapkan kawasan Bukit Bulu Sipong di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, sebagai area konservasi seluas 31,64 hektare di tengah wilayah tambang perusahaan. Langkah ini dilakukan untuk melindungi Gua Bulu Sipong 4, situs seni cadas prasejarah berusia sekitar 44.000 tahun, sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem di kawasan tambang.

Situs Bulu Sipong 4 berada di area tambang tanah liat PT Semen Tonasa di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Pangkep. Gua tersebut dikenal sebagai lokasi temuan lukisan cadas tertua di dunia yang menggambarkan adegan perburuan oleh manusia prasejarah.

Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengatakan penetapan kawasan konservasi tersebut mencerminkan komitmen perusahaan dalam menyeimbangkan kegiatan industri dengan pelestarian lingkungan serta warisan budaya.

“Penetapan kawasan Bulu Sipong sebagai kawasan konservasi menjadi bukti komitmen SIG dan PT Semen Tonasa terhadap pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan industri dengan lingkungan dan nilai budaya. Bulu Sipong diharapkan menjadi sarana edukasi dan membantu mempromosikan sejarah dan budaya peradaban kepada masyarakat luas,” ujar Vita, dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (4/3/2026). 

Penemuan gua prasejarah Bulu Sipong 4 pertama kali dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar pada 2016. Setelah itu dilakukan penelitian lanjutan melalui pengambilan sampel untuk penentuan usia lukisan cadas. Penelitian tersebut kemudian diikuti dengan kerja sama antara PT Semen Tonasa dan Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk perlindungan situs prasejarah tersebut.

Atas rekomendasi SIG sebagai induk perusahaan, PT Semen Tonasa kemudian menetapkan 31,64 hektare atau sekitar 11,3% dari total lahan tambang seluas 280 hektare sebagai kawasan konservasi. Pada 18 Mei 2018, perusahaan meresmikan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Geopark Bulu Sipong untuk melindungi ekosistem serta kawasan purbakala di sekitar area tambang.

Situs Bulu Sipong 4 yang berada di kawasan tersebut juga telah masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark sebagai bagian dari Geopark Maros-Pangkep, berdasarkan keputusan Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-216 di Paris, Prancis, pada 2023.

Dalam pengelolaan kawasan konservasi tersebut, PT Semen Tonasa bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX. Upaya perlindungan yang dilakukan meliputi pemantauan getaran dan kualitas udara ambien secara berkala, pengecoran jalan sepanjang 1.800 meter, serta penyiraman jalan tambang untuk mengurangi debu.

Perusahaan juga melakukan edukasi kepada karyawan dan masyarakat sekitar terkait pelestarian situs prasejarah, memasang rambu serta pembatasan akses melalui pagar sepanjang 1.900 meter, serta melakukan program revegetasi di kawasan konservasi.

Selain memiliki nilai arkeologis, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong juga menjadi habitat bagi beragam flora dan fauna. Hingga 2025, kawasan tersebut mencatat 25 jenis flora dengan total 2.898 pohon, termasuk tanaman endemik seperti eboni (diospyros celebica), kayu kuku (pericopsis mooniana), dan bitti (vitex cofassus).

Baca Juga: Catatkan Zero Fatality Sepanjang 2025, SIG Dorong Keselamatan Kerja sebagai Prioritas Operasional

Baca Juga: SIG Kirim 36.000 Bata Interlock untuk Huntap Pascabencana di Sumatra Barat

Baca Juga: SIG Gelar Pelatihan Ahli Bangunan di Lima Provinsi

Kawasan tersebut juga menjadi habitat bagi 41 jenis satwa liar, terdiri dari 37 jenis burung, dua jenis primata, satu unggas, dan satu reptil dengan total populasi terpantau 869 ekor. Beberapa di antaranya adalah monyet dare (macaca maura) dan tarsius yang merupakan primata endemik yang dilindungi.

Vita menambahkan bahwa program konservasi tersebut juga tercermin dari peningkatan nilai Indeks Keanekaragaman Hayati (Kehati) di kawasan Bulu Sipong. Pada 2025, indeks flora tercatat 1,54, meningkat dari 1,38 pada 2020, sementara indeks fauna naik menjadi 2,85 dari sebelumnya 2,51.

“Kenaikan nilai Indeks Kehati Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong menunjukkan lingkungan kawasan Bulu Sipong yang semakin asri dan menjadi benteng pelindung bagi kelestarian keanekaragaman hayati dan warisan arkeologi di dalamnya,” ujar Vita.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: