Intelijen AS Deteksi Cina Siap Alirkan Komponen Rudal ke Iran, Rusia Bocorkan Lokasi Pasukan AS
Kredit Foto: Istimewa
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini menghadapi dimensi baru yang jauh lebih berbahaya.
Dua kekuatan besar dunia, Cina dan Rusia, disebut mulai ikut campur, meski dengan cara dan tingkat kehati-hatian yang berbeda.
CNN melaporkan pada Jumat (6/3/2026), intelijen AS mendeteksi sinyal mengkhawatirkan dari Beijing dan Moskow, yang berpotensi mengubah keseimbangan perang secara drastis.
Selama ini Beijing memilih diam, tapi mungkin tidak akan lama.
Intelijen AS mengindikasikan Cina tengah bersiap memberikan bantuan finansial, suku cadang, dan komponen rudal kepada Iran, meski sejauh ini Beijing masih menghindari keterlibatan langsung dalam perang.
Sikap hati-hati Beijing bukan tanpa alasan ekonomi yang sangat konkret.
Cina sangat bergantung pada minyak Iran, dan dilaporkan telah mendesak Teheran memastikan jalur pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz bagi kapal-kapal komersial.
"Cina lebih berhati-hati dalam dukungannya."
"Cina ingin perang ini berakhir karena mengancam pasokan energinya," kata sumber yang mengetahui situasi ini kepada CNN.
CIA menolak berkomentar, sementara Kedutaan Besar Cina di Washington juga belum memberikan respons.
Jika Cina masih di tahap bersiap, Rusia sudah melangkah lebih jauh.
Moskow disebut telah memberikan intelijen penargetan kepada Iran, termasuk data mengenai lokasi dan pergerakan pasukan, kapal perang, serta pesawat tempur AS di kawasan Timur Tengah, sebagian besar bersumber dari citra satelit milik Rusia yang disebut sangat canggih.
Ini menjadi indikasi pertama Moskow secara aktif berupaya terlibat dalam perang ini.
"Ini menunjukkan Rusia masih sangat menyukai Iran," ujar sumber yang mengetahui intelijen tersebut.
Kremlin belum memberikan respons resmi, dan belum jelas pula apa yang Rusia dapatkan sebagai imbalan atas bantuan tersebut.
Di tengah laporan yang kian mengkhawatirkan, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth justru memilih nada meremehkan.
Ia menyatakan kepada wartawan, Rusia dan Cina bukan faktor yang berarti dalam perang melawan Iran.
Namun dalam wawancara dengan CBS News 60 Minutes, Hegseth juga menegaskan rakyat Amerika bisa tenang, panglima tertinggi mereka sangat menyadari siapa berbicara dengan siapa, dan apa pun yang seharusnya tidak terjadi, baik secara terbuka maupun lewat jalur belakang, sedang dihadapi dan dihadapi dengan tegas.
Di balik semua manuver militer dan intelijen ini, ada satu jalur yang membuat seluruh dunia termasuk Indonesia ikut tegang, yakni Selat Hormuz.
Iran sebelumnya memperoleh komponen rudal dari Cina, termasuk mesin pengaduk bahan bakar padat, yang menjadi salah satu komponen paling krusial dalam produksi rudal berkapasitas nuklir.
Jika Cina kembali mengalirkan suku cadang dan komponen serupa di tengah perang aktif ini, kemampuan ofensif Iran bisa pulih jauh lebih cepat dari yang diperkirakan AS.
Baca Juga: 2 Tanker Minyak RI Terjebak di Timur Tengah, Pemerintah Lobi Iran Terkait Keamanan
Operasi militer AS saat ini melibatkan lebih dari 50.000 personel, lebih dari 200 pesawat tempur, dan dua kapal induk, dengan tujuan utama melumpuhkan kemampuan rudal balistik Iran yang disebut Hegseth sebagai 'tameng' pengembangan program nuklir Teheran.
Semakin dalam keterlibatan Cina dan Rusia, semakin berat kalkulasi militer yang harus dihadapi Washington. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: