Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pakistan Jadi Penentu! Iran-AS Kembali Negosiasi, Tapi Tuntutan Trump TIdak Realistis

Pakistan Jadi Penentu! Iran-AS Kembali Negosiasi, Tapi Tuntutan Trump TIdak Realistis Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Upaya meredakan konflik Timur Tengah kini bergeser ke jalur diplomasi intensif dengan Pakistan sebagai pusat perundingan baru. Negara tersebut mulai memainkan peran strategis dalam menjembatani komunikasi antara Iran dan United States.

Langkah ini tercermin dari komunikasi langsung antara Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Percakapan tersebut menjadi bagian dari persiapan menuju putaran lanjutan negosiasi kedua negara di Islamabad.

Sebelumnya, Islamabad telah aktif membangun dukungan internasional. Sharif mengungkapkan dirinya telah berkomunikasi dengan sejumlah pemimpin dunia untuk memperkuat jalur diplomasi.

Dilansir dari Anadolu, ia menilai interaksi tersebut memberikan dampak signifikan terhadap upaya membangun kesepahaman global. Sharif menyebut komunikasi itu “sangat membantu dalam membangun konsensus untuk mendukung proses dialog dan diplomasi yang berkelanjutan.”

Komitmen Pakistan dalam mendorong perdamaian juga ditegaskan secara terbuka. Ia memastikan negaranya akan tetap menjalankan “upaya yang jujur dan sungguh-sungguh untuk mendorong perdamaian dan keamanan kawasan.”

Dari pihak Iran, respons yang diberikan cenderung positif. Presiden Masoud Pezeshkian menilai langkah Pakistan sebagai bentuk dukungan nyata terhadap proses perdamaian.

Ia bahkan menegaskan hubungan kedua negara akan semakin kuat ke depan. Menurutnya, kerja sama Iran dan Pakistan akan “terus berkembang semakin kuat dalam waktu mendatang.”

Meski demikian, situasi di lapangan menunjukkan dinamika yang belum stabil. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih menjadi faktor utama yang menghambat terobosan.

Gencatan senjata yang berlaku saat ini masih bersifat sementara dan rapuh. Tanpa kesepakatan baru, risiko eskalasi konflik tetap terbuka lebar.

Iran secara terbuka mengkritik sikap Amerika Serikat dalam proses negosiasi. Media resmi negara itu menyebut tuntutan Washington “berlebihan, tidak masuk akal, dan tidak realistis.

Selain itu, Teheran juga menyoroti inkonsistensi posisi AS selama perundingan berlangsung. Iran menilai Washington menunjukkan “sikap yang saling bertentangan” yang justru memperumit proses dialog.

Baca Juga: Duduk Perkara Langkah Putar Balik Iran Tutup Kembali Selat Hormuz

Di sisi lain, tekanan terhadap Iran belum menunjukkan tanda mereda. Kebijakan blokade laut serta retorika keras dari AS dinilai mempersempit ruang kompromi.

Meski menghadapi kondisi tersebut, Pakistan tetap melanjutkan perannya sebagai mediator. Putaran kedua pembicaraan Iran-AS dijadwalkan kembali digelar dalam waktu dekat di Islamabad.

Pertemuan itu akan melibatkan delegasi tingkat tinggi dari kedua negara. Hasilnya dipandang krusial dalam menentukan arah konflik, apakah menuju deeskalasi atau justru kembali memanas.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement