Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Super Ketat, Lapis Pengamanan Pakistan Jadi Mediator AS-Iran, Hotel Mewah Tak Boleh Buka Reservasi Kamar

Super Ketat, Lapis Pengamanan Pakistan Jadi Mediator AS-Iran, Hotel Mewah Tak Boleh Buka Reservasi Kamar Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah adu mulut dan ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, Pakistan selaku mediator utama bersiap siaga menjadi tuan rumah perundingan.

Pakistan menaruh harapan tinggi agar pembicaraan ini dapat menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang yang kini memasuki minggu kedelapan.

Selain itu, pengamanan di ibu kota Pakistan juga semakin diperketat secara drastis, pengosongan Hotel Akses VIP: Para tamu di Hotel Marriott Islamabad dan Hotel Serena (lokasi perundingan putaran pertama) diminta mengosongkan kamar, dan pihak hotel menghentikan penerimaan reservasi baru.

Baca Juga: Pakistan Jadi Penentu! Iran-AS Kembali Negosiasi, Tapi Tuntutan Trump TIdak Realistis

Isolasi Zona Merah: Akses jalan menuju Red Zone area dengan pengamanan super ketat yang menampung Gedung Majelis Nasional, kedutaan asing, dan hotel-hotel diplomat ditutup total dengan kawat berduri dan barikade.

Selain itu ribuan personel polisi dan paramiliter tambahan didatangkan dari seluruh penjuru negeri untuk berjaga.

Strategi Ganda: Sikap Keras vs Diplomasi Jalur Belakang

Secara publik, Iran bereaksi keras terhadap rentetan cuitan dan aksi militer Trump, lantor berita pemerintah Iran, IRNA, bahkan menyebut laporan mengenai keberlanjutan perundingan di Islamabad sebagai hal yang "tidak benar".

Mereka menyalahkan stagnasi negosiasi pada "keserakahan" dan tuntutan tidak masuk akal pihak AS. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, juga menyebut blokade laut AS di Selat Hormuz sebagai "tindakan ilegal, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan".

Namun, sejumlah analis menilai ada manuver tersembunyi di balik sikap keras Iran. Analis hubungan internasional di Teheran, Seyed Mojtaba Jalalzadeh, menyebut hal ini sebagai "strategi negosiasi jalur ganda".

"Di ranah publik, Iran mempertahankan posisi keras demi menjaga legitimasi domestik. Namun di jalur privat, dengan tetap mengirim tim ke Islamabad, mereka memberi sinyal bahwa diplomasi belum ditinggalkan," jelas Jalalzadeh dikutip dari Al Jazeera.

Meskipun secara publik membantah, sumber-sumber internal Iran mengindikasikan bahwa delegasi yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi diperkirakan akan tetap mendarat di Pakistan pada hari Selasa.

Perbedaan pendekatan kedua negara ini digambarkan secara apik oleh seorang diplomat di Islamabad. "Pihak Amerika seolah datang membawa stopwatch (ingin semua cepat selesai), sementara pihak Iran datang berbekal kalender (tidak mau terburu-buru)," ungkapnya.

Para pejabat yang terlibat menyadari bahwa kesepakatan damai final mustahil tercapai dalam minggu ini. Target paling realistis saat ini adalah menyepakati perpanjangan gencatan senjata untuk memberikan napas panjang bagi negosiasi lanjutan di minggu-minggu berikutnya.

Meski saat ini telah terwujud gencatan senjata terpisah antara Israel dan Lebanon yang merupakan salah satu syarat awal Iran, Teheran memandang kesepakatan tersebut masih rapuh.

Pasalnya, Hizbullah selaku sekutu terkuat Iran di kawasan tidak dilibatkan secara langsung dalam kesepakatan yang dinegosiasikan oleh pemerintah Lebanon dan Israel tersebut.

Bagi para negosiator, perpanjangan gencatan senjata AS-Iran saat ini sudah akan menjadi pencapaian yang sangat krusial untuk mencegah Timur Tengah terperosok ke dalam perang regional berskala penuh.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait:

Advertisement