Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Stok Pangan Surplus tapi Harga Daging Melonjak, DPR Dorong Pasar Murah Sebelum Idulfitri

Stok Pangan Surplus tapi Harga Daging Melonjak, DPR Dorong Pasar Murah Sebelum Idulfitri Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Neraca pangan sembilan komoditas strategis Indonesia tercatat surplus hingga April 2026, tapi di tingkat pedagang eceran, harga daging sapi sudah melampaui batas acuan yang ditetapkan pemerintah.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional per Minggu, 15 Maret, mencatat harga daging sapi kualitas I mencapai Rp146.600 per kilogram.

Angka itu melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024. Regulasi itu menetapkan HAP daging sapi segar atau chilled di tingkat konsumen sebesar Rp130.000 per kilogram untuk paha depan dan Rp140.000 per kilogram untuk paha belakang.

Anggota Komisi IV DPR RI Rajiv menilai selisih harga itu bukan kondisi yang bisa dibiarkan begitu saja, terutama menjelang Idulfitri ketika konsumsi masyarakat meningkat. Ia meminta pemerintah segera merespons dengan memperbanyak program pasar murah sebagai solusi cepat pengendalian harga.

"Saya mendorong gerakan pasar murah diperbanyak, karena ini menjadi salah satu solusi cepat untuk mengendalikan harga-harga yang beranjak naik menjelang Lebaran," tegasnya dikutip dari ANTARA, Minggu (15/3/2026).

Rajiv membaca kenaikan harga daging yang melampaui acuan sebagai sinyal yang perlu ditafsirkan secara serius. Ada beberapa kemungkinan penyebab yang ia sebutkan, mulai dari lonjakan permintaan, kendala distribusi, disparitas pasokan antardaerah, hingga margin perdagangan yang terlalu tinggi.

"Lonjakan harga daging yang melewati acuan Rp130.000-Rp140.000 per kilogram tersebut harus dibaca sebagai sinyal adanya kenaikan demand (permintaan) persoalan distribusi, disparitas pasokan antardaerah, atau margin perdagangan yang berlebihan," ujarnya.

Pemerintah, menurutnya, tidak boleh menganggap kenaikan ini sebagai sesuatu yang lumrah di musim hari besar.

Di sisi lain, Rajiv memastikan masyarakat tidak perlu panik soal ketersediaan pangan secara keseluruhan. Cadangan pangan nasional diklaim masih berlimpah dan neraca sembilan komoditas strategis berada dalam kondisi surplus hingga April 2026.

"Masyarakat jangan khawatir, sejauh ini cadangan pangan kita cukup berlimpah. Bahkan saat ini neraca pangan sembilan komoditas strategis kita hingga April 2026 dalam kondisi surplus," katanya.

Pernyataan itu sejalan dengan data stok beras nasional yang sebelumnya diklaim pemerintah mencapai 144 persen dari kebutuhan.

Baca Juga: Perkuat Pasokan Susu MBG, BEEF Datangkan 250 Sapi Perah Impor

Rajiv juga mengingatkan pemerintah agar pengawasan harga tidak berhenti setelah Lebaran. Stabilitas distribusi pangan pascahari raya dinilai sama pentingnya agar masyarakat tidak langsung menghadapi lonjakan harga begitu musim belanja mereda.

Komisi IV DPR akan terus mengawal kebijakan pangan nasional agar surplus yang tercatat dalam neraca nasional benar-benar terasa di pasar-pasar tradisional. Rajiv menekankan bahwa angka surplus di atas kertas tidak otomatis berarti harga terkendali di lapangan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: