Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Adopsi Pembayaran Digital QR Meningkat, Kesadaran Keamanan Digital Perlu Diperkuat

Adopsi Pembayaran Digital QR Meningkat, Kesadaran Keamanan Digital Perlu Diperkuat Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Adopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hingga paruh pertama 2025, QRIS telah digunakan oleh sekitar 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant, dengan total 6,05 miliar transaksi senilai Rp579 triliun.

Pertumbuhan ini berlanjut hingga kuartal keempat 2025, dengan jumlah transaksi QRIS meningkat 139,9% secara tahunan. Capaian tersebut menjadikan QRIS sebagai salah satu metode pembayaran digital dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia.

Peningkatan ini mencerminkan bahwa penggunaan QR code telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Momentum seperti Ramadan turut mendorong intensitas transaksi, terutama untuk pembayaran cepat dan nominal kecil, seperti pembelian makanan berbuka, belanja kebutuhan Lebaran, hingga donasi.

Di tengah kemudahan tersebut, aspek keamanan digital juga menjadi perhatian penting. Seiring meningkatnya penggunaan QR code, muncul berbagai modus penipuan siber yang memanfaatkan teknologi ini, salah satunya adalah quishing atau phishing berbasis QR code.

Quishing merupakan upaya penipuan yang memanfaatkan QR code untuk mengarahkan pengguna ke situs berbahaya atau memperoleh informasi sensitif. Secara global, tren serangan berbasis QR code juga mengalami peningkatan, seiring dengan semakin luasnya penggunaan teknologi ini di berbagai sektor.

Berbeda dengan phishing melalui email atau pesan singkat yang sering kali mudah dikenali, QR code cenderung lebih dipercaya karena sudah akrab digunakan dalam transaksi sehari-hari.

Beberapa modus yang kerap ditemukan antara lain penggantian QR code asli dengan QR code palsu di lokasi publik, seperti meja kasir atau stan penjualan. Dalam situasi ini, pengguna tetap melakukan pemindaian seperti biasa, namun dana dapat mengalir ke pihak yang tidak bertanggung jawab.

Selain itu, QR code juga dapat digunakan untuk mengarahkan pengguna ke situs tiruan yang menyerupai layanan resmi. Jika pengguna memasukkan data pribadi atau kode verifikasi, informasi tersebut berpotensi disalahgunakan.

Dalam konteks organisasi, risiko serupa juga dapat terjadi, terutama jika QR code digunakan untuk mengakses sistem internal. Serangan dapat menyasar kredensial pengguna melalui halaman login palsu, yang kemudian dimanfaatkan untuk mengakses sistem tanpa izin.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, diperlukan pendekatan yang seimbang antara kemudahan teknologi dan penguatan keamanan.

Di tingkat organisasi, pemantauan aktivitas pengguna menjadi salah satu langkah penting. Analisis log sistem dan pemantauan perilaku login dapat membantu mendeteksi aktivitas tidak wajar sejak dini. Pemanfaatan sistem seperti Security Information and Event Management (SIEM) memungkinkan identifikasi potensi ancaman secara lebih cepat dan terintegrasi.

Selain itu, penerapan lapisan keamanan tambahan seperti multi-factor authentication (MFA) dan pengaturan hak akses berbasis peran (role-based access control/RBAC) dapat meminimalkan dampak jika terjadi kebocoran kredensial.

Perlindungan pada perangkat juga menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan. Sistem manajemen endpoint membantu memastikan perangkat tetap terlindungi dari potensi ancaman yang berasal dari tautan atau situs berbahaya.

Di sisi pengguna, peningkatan literasi digital menjadi kunci. Masyarakat diimbau untuk lebih teliti sebelum memindai QR code, memastikan sumbernya terpercaya, serta menghindari memasukkan data sensitif pada halaman yang tidak terverifikasi.

Baca Juga: Pramono Menyisir QR Code yang Terhubung Judi Online

QRIS telah berperan penting dalam mendorong inklusi keuangan dan mempercepat transformasi digital di Indonesia. Dengan jumlah pengguna dan merchant yang terus bertambah, teknologi ini diperkirakan akan semakin dominan dalam sistem pembayaran nasional.

Seiring dengan itu, menjaga keamanan dan kepercayaan menjadi hal yang tidak terpisahkan dari pertumbuhan ekosistem digital. Kolaborasi antara penyedia layanan, pelaku usaha, dan masyarakat diperlukan untuk memastikan pemanfaatan teknologi dapat berjalan secara optimal dan aman.

Dengan keseimbangan antara inovasi dan kewaspadaan, penggunaan QR code diharapkan tetap memberikan manfaat maksimal bagi aktivitas ekonomi sehari-hari, termasuk pada periode dengan intensitas transaksi tinggi seperti Ramadan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: