Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Minyak Melambung, Pemerintah Siapkan Rp881 T Antisipasi Lonjakan Subsidi Energi

Minyak Melambung, Pemerintah Siapkan Rp881 T Antisipasi Lonjakan Subsidi Energi Kredit Foto: Pertamina
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov menyebut pemerintah telah menyiapkan ruang fiskal hingga Rp881 triliun untuk mengantisipasi lonjakan subsidi dan kompensasi energi akibat kenaikan harga minyak dunia.

Menurut Abra, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali di tengah tekanan harga energi global.

“Nah saya mendengar memang Pak Presiden dalam tadi apa pertemuannya dengan beberapa pakar menyampaikan sudah menyisir kurang lebih Rp881 triliun ya untuk sebagai bantalan ketika nanti dibutuhkan tambahan subsidi dan kompensasi energi,” ujar Abra di Jakarta, Selasa (24/3/2026).

Baca Juga: INDEF: Kendaraan Listrik Jadi Strategi Redam Risiko Lonjakan Harga Minyak Dunia

Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan beban subsidi energi pemerintah. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk menyiapkan langkah realokasi belanja.

Abra menyebutkan, pemerintah juga cenderung mempertahankan defisit fiskal tetap di bawah batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Dengan demikian, opsi yang ditempuh adalah melakukan penyesuaian anggaran.

“Ternyata dari statement yang terakhir kita dengar, pemerintah sepertinya ingin bertahan agar defisit APBN kita maksimal 3%. Artinya yang akan dilakukan pemerintah adalah melakukan realokasi belanja sehingga nanti diharapkan bisa menambah alokasi subsidi dan kompensasi,” katanya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kemampuan fiskal pemerintah tetap memiliki batasan, terutama jika harga minyak mentah terus meningkat di tengah ketegangan geopolitik global.

“APBN tetap ada limitasinya. Jadi taruhlah tadi di skenario yang pesimis itu kurs itu 17.500 dan ICP hanya 115 dolar per barel. Kita tidak tahu nih apakah akan ada risiko harga minyak mentah nanti bisa menyentuh melewati 150 dolar per barel,” tutup Abra.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Istihanah