Kredit Foto: South China Morning Post
Peneliti di Tiongkok berhasil mengembangkan robot bedah yang mampu mempercepat pencitraan otak hingga hampir 30% dibanding metode manual, sekaligus meningkatkan stabilitas dan keselamatan tindakan.
Robot berbasis kecerdasan buatan (AI) kini semakin berkembang dan mulai mengambil peran penting dalam dunia medis, termasuk dalam prosedur bedah kompleks.
Teknologi ini merupakan sistem intervensi serebrovaskular pertama di dunia yang telah mendapat persetujuan penggunaan.
Dalam uji langsung di Peking Union Medical College Hospital (PUMCH), robot tersebut terbukti mampu memangkas waktu prosedur secara signifikan.
Melansir South China Morning Post, dalam perbandingan tersebut, seorang ahli bedah muda yang menggunakan sistem robotik berhasil mengurangi waktu tindakan hingga 9 menit dibanding metode manual.
Rata-rata waktu operasi turun dari 38 menit menjadi 27 menit, atau sekitar 29% lebih cepat.
Nama robot ini adalah YDHB-NS01.
Dr Zhai Yuanlin selaku penulis utama studi menyebutkan, robot ini menunjukkan hasil awal yang menjanjikan.
“Aplikasi klinis awal menunjukkan sistem berbantuan robot YDHB-NS01 layak untuk angiografi serebral diagnostik, dan menunjukkan indikasi awal keamanan serta kinerja prosedural yang sebanding dengan metode manual konvensional,” tulis Zhao Yuanli dalam jurnal bedah saraf Tiongkok.
Robot YDHB-NS01 dikembangkan dan diproduksi di provinsi Hebei dan menjadi robot intervensi vaskular pertama di Tiongkok, sekaligus robot intervensi serebrovaskular pertama di dunia yang disetujui.
Zhao Yuanlin dan timnya dalam jurnal Chinese Neurisurgical Journal menjelaskan, dalam melakukan operasi bedah otak secara manual terdapat beberapa tantangan.
Salah satunya, dokter harus memasukkan kawat pemandu tipis dari paha pasien hingga ke pembuluh darah otak dengan bantuan fluoroskopi sinar-X.
Metode manual ini memiliki sejumlah keterbatasan, mulai dari potensi getaran tangan hingga beban fisik akibat penggunaan pelindung radiasi berbahan timbal.
Selain itu, paparan radiasi jangka panjang juga menjadi risiko bagi tenaga medis.
Dalam penelitian yang melibatkan 50 pasien, masing-masing 25 pasien menjalani prosedur dengan robot, dan 25 lainnya secara manual.
Seluruh prosedur berhasil diselesaikan dengan tingkat keberhasilan teknis dan klinis mencapai 100% pada kedua metode.
“Tidak ditemukan perbedaan antara kedua kelompok dalam hal waktu fluoroskopi, dosis radiasi pasien, dosis zat kontras, atau total waktu di ruang angiografi,” jelas Zhao.
Menariknya, seluruh prosedur dilakukan oleh ahli bedah saraf muda yang sama dengan pengalaman kurang dari tiga tahun.
Baca Juga: Era Digital, AHY Dorong Generasi Muda Melek AI dan Robotik
Namun, hasil menunjukkan lengan robot berbasis mesin cerdas mampu mengungguli tangan manusia dalam aspek efisiensi waktu.
Pengembangan ini menandai langkah besar dalam dunia bedah berbasis robot, yang membuka peluang menuju prosedur medis yang lebih cepat, presisi, dan aman bagi dokter maupun pasien. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: