Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Di Balik Ultimatum 48 Jam Trump untuk Iran: Ada Taktik Militer Terselubung di Selat Hormuz?

Di Balik Ultimatum 48 Jam Trump untuk Iran: Ada Taktik Militer Terselubung di Selat Hormuz? Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Analis dari The New York Times, David E Singer menjelaskan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kini menghadapi tantangan besar terkait stabilitas pasokan minyak global setelah Selat Hormuz belum sepenuhnya dapat dibuka kembali.

Jalur sempit tersebut merupakan salah satu rute paling vital dunia karena dilalui sekitar 20 persen pergerakan minyak global.

Meski AS mengklaim telah meraih sejumlah pencapaian militer terhadap Iran, Washington hingga kini belum mampu memastikan keamanan Selat Hormuz. Kondisi ini memicu meningkatnya frustrasi di Gedung Putih.

Baca Juga: Buka Opsi Diplomasi, Trump Klaim Iran Beri Amerika Serikat Konsesi Migas

Pada Sabtu malam waktu setempat, Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran. Ia menuntut Teheran membuka Selat Hormuz sepenuhnya tanpa ancaman dalam waktu 48 jam.

Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, AS mengancam akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik milik Iran, dimulai dari fasilitas terbesar.

Namun, ancaman tersebut justru menempatkan Trump dalam posisi dilematis. Serangan terhadap pembangkit listrik berpotensi melanggar Konvensi Jenewa dan dapat memicu eskalasi konflik.

Iran diperkirakan akan membalas dengan menyerang infrastruktur vital di kawasan Teluk, yang berisiko memperluas konflik menjadi lebih besar.

Di tengah situasi yang memanas, pada Senin pagi Trump mengumumkan penundaan rencana serangan selama lima hari. Penundaan itu disebut dilakukan karena Amerika Serikat telah kembali membuka jalur komunikasi dengan Iran.

Trump tidak menyebutkan secara rinci siapa yang terlibat dalam pembicaraan tersebut. Namun sejumlah laporan menyebut Utusan Khusus Presiden Steve Witkoff bersama Jared Kushner kembali menjalin kontak dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Ketiga tokoh tersebut sebelumnya pernah menggelar perundingan diplomatik di Jenewa sebelum konflik pecah pada 28 Februari lalu.

Penundaan lima hari ini memunculkan berbagai analisis terkait strategi Trump. Jeda waktu tersebut dinilai dapat menjadi ruang bagi upaya diplomasi, namun juga berpotensi menjadi bagian dari strategi militer.

Baca Juga: Paus Leo: Kebencian Meningkat dalam Perang Iran dan Amerika Serikat

Pemerintah AS dilaporkan tengah menunggu kedatangan dua unit ekspedisi Marinir dengan total sekitar 4.800 personel. Pasukan tersebut dijadwalkan tiba dalam waktu satu hingga sepuluh hari ke depan untuk membantu mengamankan kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Tantangan yang dihadapi Washington tidak hanya membuka kembali jalur laut tersebut, tetapi juga mengembalikan kepercayaan perusahaan pelayaran internasional. Singer menilai satu atau dua insiden ledakan saja dapat membuat perusahaan pelayaran kembali menghindari rute tersebut.

Jika kondisi tersebut terjadi, Trump berpotensi kembali menggunakan pendekatan ancaman militer terhadap Iran guna memastikan Selat Hormuz tetap terbuka dan stabilitas pasokan minyak global terjaga.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat