Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Menteri Keuangan Purbaya Pastikan Belum Ada Rencana Kenaikan Harga BBM Subsidi

Menteri Keuangan Purbaya Pastikan Belum Ada Rencana Kenaikan Harga BBM Subsidi Kredit Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan belum berencana menyesuaikan atau menaikkan harga Bahan Bakar Minyak bersubsidi. Pemerintah meyakini bahwa APBN saat ini masih memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menahan gejolak harga minyak mentah global.

Fluktuasi harga minyak dunia yang terjadi belakangan ini dinilai belum mencapai titik yang membahayakan postur anggaran negara. Oleh karena itu, wacana pembatasan kuota maupun kenaikan harga BBM subsidi sama sekali belum masuk dalam radar kebijakan pemerintah.

"Setahu saya tidak ada penyesuaian kebijakan BBM subsidi. Jadi saya bilang, jangan diganggu dulu anggaran karena ini masih terlalu dini," ungkap Purbaya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (25/3/2026). Beliau meminta publik untuk tidak berspekulasi mengenai adanya kenaikan harga dalam waktu dekat.

Bendahara negara menyoroti bahwa pergerakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) terbaru masih berada di level US74 per barel. Angka ini tercatat sedikit meleset dari asumsi makro APBN yang sebelumnya dipatok pada level US70 per barel.

Kendati demikian, selisih harga sebesar US$4 per barel tersebut dinilai masih sangat terkelola oleh pemerintah. Purbaya menekankan bahwa perhitungan APBN didasarkan pada rata-rata pergerakan harga sepanjang tahun dan bukan berdasarkan lonjakan sesaat.

"Untuk ambil tindakan saja sebetulnya sekarang kecepatan karena masih meleset US4 dibanding dari asumsi US70," ujarnya. Beliau menambahkan bahwa pemerintah tetap menunjukkan sikap hati-hati dengan terus melakukan penghitungan secara mendalam.

Keputusan ini juga didasari pada pengalaman Indonesia dalam menghadapi krisis energi global pada masa lalu. Purbaya mengingatkan keberhasilan pemerintah saat melewati periode krisis pada tahun 2008 hingga 2009 silam.

Pada saat itu, rata-rata harga minyak dunia melambung hingga kisaran US$130 per barel di tengah resesi ekonomi global. Namun, ekonomi Indonesia nyatanya tetap mampu mencetak pertumbuhan positif di level 4,6 persen.

"Karena kebijakan fiskal dan moneter yang betul, ekonomi kita tumbuh 4,6% ketika sekeliling kita tumbuhnya negatif," ujar Purbaya. Keberhasilan tersebut diklaim sebagai buah dari kebijakan bauran yang tepat antara sektor keuangan dan perbankan.

Pengalaman serupa juga teruji pada periode 2012 hingga 2014 saat harga minyak bertengger di kisaran US$120 per barel. Indonesia berhasil menghindari jurang resesi tanpa harus mengambil langkah menaikkan harga BBM subsidi kepada masyarakat.

Baca Juga: BBM Pertamax Series Jadi Andalan Pemudik Lebaran 2026, Konsumsi Naik Signifikan

Purbaya mengungkapkan bahwa dirinya terlibat langsung dalam pemerintahan selama periode-periode krisis tersebut berlangsung. Beliau pernah bertugas sebagai staf khusus hingga deputi menteri dalam menangani berbagai persoalan ekonomi nasional.

"Ini ada gangguan, tapi kalau kita pintar, kita bisa kendalikan, dan sejarah sudah menunjukkan kita cukup pintar," pungkasnya. Pemerintah optimis dapat menjaga stabilitas harga energi domestik demi mendukung daya beli masyarakat luas.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Amry Nur Hidayat