Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan progres pemenuhan sejumlah catatan dari MSCI dengan fokus pada peningkatan integritas, likuiditas, dan transparansi di pasar modal Indonesia. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat kepercayaan investor dan meningkatkan kualitas pasar.
Friderica menyatakan OJK telah melakukan reformasi integritas sektor jasa keuangan, khususnya di pasar modal, melalui penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap berbagai kasus.
“Kita reformasi integritas sektor jasa keuangan terutama di pasar modal ya sebagaimana telah kita sampaikan kita ada beberapa langkah yang kita lakukan terkait dengan bagaimana kita peningkatan integritas di pasar modal ini di tempat Pak Hasan, dan juga dari penyidikan itu terus melakukan enforcement terhadap beberapa kasus-kasus yang terjadi di pasar modal Indonesia," katanya, usai pelantikan, di Jakarta, Rabu (25/3/2025).
Selain aspek integritas, OJK juga mendorong peningkatan likuiditas pasar sebagai salah satu fokus utama dalam merespons catatan MSCI. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program, termasuk peningkatan porsi saham beredar di publik (free float).
“Kemudian yang berikutnya terkait dengan likuiditas kami sudah sampaikan bahwa kita akan meningkatkan likuiditas di market dengan berbagai program salah satunya peningkatan untuk free float di pasar modal Indonesia," terang Friderica.
Di sisi transparansi, Friderica menyebut OJK memperluas keterbukaan informasi kepemilikan saham untuk meningkatkan kepercayaan investor. Salah satu langkah yang telah diterapkan adalah membuka informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1% kepada publik.
“Kemudian kita juga keterbukaan ya kita juga terus meningkatkan melalui peningkatan keterbukaan pemegang saham yang teman-teman juga bisa melihat bagaimana kita serius dan itu sudah kita terapkan bagaimana yang di atas 1% sudah kita buka loh untuk publik dan sebagainya. Jadi semua terbuka jadi tahu saham ini siapa saja yang memiliki tersebut," jelasnya.
OJK juga tengah mengembangkan keterbukaan terkait ultimate beneficial owner (UBO) untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kepemilikan saham di pasar.
“Kemudian nanti untuk UBO ya ini sedang dikerjakan untuk bagaimana kita bisa mendorong keterbukaan dari ultimate beneficial owner di saham-saham di Indonesia.”
Selain itu, otoritas telah melakukan pengayaan data kepemilikan efek melalui Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dengan klasifikasi yang lebih rinci untuk kategori investor.
“Kemudian yang klasifikasi untuk data-data yang apa data-data di KSEI itu untuk others dan lain-lain corporate kita sudah lebih granular-kan sehingga itu juga bisa memberi gambaran yang lebih jelas kepada investor kepada kita semua yang ingin kita masuk ke saham tertentu siapa saja sebetulnya profil dari investor tersebut," ucap Friderica.
Baca Juga: Aturan Baru Free Float Segera Berlaku, OJK Minta BEI Tuntaskan Aturan Baru
Baca Juga: Update Pertemuan MSCI, OJK Sebut 4 Proposal RI Diterima
Baca Juga: Resmi Jadi Ketua OJK, Ini Target Besar Friderica
Friderica menambahkan OJK akan terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna mendukung peningkatan kualitas pasar modal nasional.
“Dan tentu saja juga kita terus meningkatkan sinergi dan kolaborasi," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri