Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Konflik Timur Tengah Ancam Pangsa Ekspor Kendaraan, Biaya Produksi Diprediksi Naik

Konflik Timur Tengah Ancam Pangsa Ekspor Kendaraan, Biaya Produksi Diprediksi Naik Kredit Foto: Xinhua
Warta Ekonomi, Jakarta -

Konflik di Timur Tengah diperkirakan akan menekan kinerja ekspor industri otomotif di Thailand pada tahun ini.

Gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz serta kenaikan biaya logistik dinilai berpotensi memperlambat pengiriman dan meningkatkan harga kendaraan.

Menurutnya, dampak langsung pertama yang akan dirasakan industri adalah menurunnya ekspor mobil ke Timur Tengah akibat terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz.

"Perubahan rute transportasi akan membuat harga mobil menjadi lebih mahal dan memperlama waktu pengiriman," kata Wakil Ketua Federation of Thai Industries (FTI) sekaligus Juru Bicara Klub Industri Otomotif, Surapong Paisitpatanapong.

Ia menambahkan mengatakan ekspor mobil ke Timur Tengah kemungkinan akan menurun akibat perubahan rute pengiriman.

Baca Juga: Krisis Timur Tengah Jadi Titik Balik Mobil Listrik Pabrikan China Kuasai Pasar Otomotif Dunia

Padahal, Surapong mencatat bahwa pada tahun lalu, ekspor mobil ke Timur Tengah sempat mengalami peningkatan, menjadikannya sebagai pasar terbesar ketiga bagi Thailand setelah Asia dan Australia.

Tekanan terhadap ekspor terjadi di tengah tren penurunan yang sudah berlangsung sebelumnya. Pada 2025, ekspor mobil Thailand turun 8,19 persen menjadi 935.750 unit. Penurunan berlanjut pada Januari tahun ini sebesar 6 persen menjadi 58.405 unit, level terendah sejak Mei 2022.

Selain konflik geopolitik, pelemahan ekspor juga dipicu aturan emisi yang lebih ketat di Australia serta penguatan nilai tukar Baht yang membuat harga kendaraan menjadi kurang kompetitif.

FTI memperkirakan ekspor mobil Thailand tahun ini kembali berada di bawah 1 juta unit. Sementara itu, target produksi kendaraan 2026 ditetapkan sebesar 1,5 juta unit, terdiri dari 950.000 unit untuk ekspor dan 550.000 unit untuk pasar domestik.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak global juga memicu kekhawatiran inflasi di Thailand. Surapong menilai kondisi tersebut berpotensi mendorong Bank of Thailand untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika tekanan harga energi terus meningkat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: