Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dari Seni Pertunjukan ke Kuliner, Bogor Menuju Kota Gastronomi

Dari Seni Pertunjukan ke Kuliner, Bogor Menuju Kota Gastronomi Kredit Foto: Dok. Kemenekraf
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky menegaskan dukungannya terhadap upaya Kota Bogor untuk meraih predikat Kota Gastronomi di bawah UNESCO Creative Cities Network (UCCN).

Dukungan tersebut disampaikan dalam pertemuan antara Menteri Ekraf dan Forum Bogor Kota Gastronomi yang berlangsung di Thamrin Nine, Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Baca Juga: Kemenkop Perkuat Ekosistem Perikanan Lewat Industri Pendukung

Dalam kesempatan itu, Teuku Riefky menekankan pentingnya penguatan potensi kuliner Bogor agar semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

“Tentu positioning atau upaya Kota Bogor menjadi Kota Gastronomi di bawah UCCN itu patut diperjuangkan. Tinggal rapor yang disyaratkan oleh UNESCO harus disesuaikan standar-standar atau dipenuhi kriteria penetapannya. Kalaupun Pemda sudah pernah mengajukan subsektor unggulan sebelumnya, maka bisa saja dilakukan re-assessment atau repositioning potensi pergeseran fokus dari seni pertunjukan ke kuliner,” ucapnya, dikutip dari siaran pers Kemenekraf, Kamis (26/3).

Pada tanggal 26 November 2025, Kota Bogor menyepakati seni pertunjukan sebagai subsektor unggulan. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Berita Acara Hasil Uji Petik Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) dan ditandatangani oleh Wali Kota Bogor, perwakilan pegiat ekraf, akademisi, komunitas, dan media Kota Bogor.

“Coba dimusyawarahkan lagi kepada Pemerintah Daerah Bogor mau menggeser ke subsektor gastronomi atau tetap seni pertunjukan. Apapun hasilnya, Kementerian Ekraf siap mendukung proses pendampingan agar potensi subsektor kuliner di Bogor bisa mendapat penguatan ekosistem dan kolaborasi yang tepat. Selain itu, peluang untuk maju ke jejaring kota kreatif dunia akan semakin terbuka,” ujar Menteri Ekraf Teuku Riefky.

Staf Khusus Menteri Bidang Isu Strategis dan Antarlembaga Kementerian Ekraf Rian Syaf yang juga mengikuti audiensi mengatakan Kementerian Ekraf senantiasa mengidentifikasi potensi subsektor unggulan daerah melalui Kegiatan Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I). Menurutnya, proses menuju pengakuan internasional memerlukan tahapan yang sistematis, mulai dari penguatan status sebagai kabupaten/kota kreatif hingga pemenuhan standar yang ditetapkan oleh UNESCO.

Merujuk pada persyaratan pengajuan UCCN yang juga disepakati Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) bahwa pengajuan calon nominasi anggota UCCN harus sudah mengikuti PMK3I di bidang yang linear dengan hasil PMK3I.

“Jadi, setiap kota atau kabupaten harus melalui proses yang lumayan panjang dari mulai koordinasi, pendampingan, sampai dengan seleksi. Teman-teman bisa berkoordinasi dengan Direktorat Fasilitasi Infrastruktur Kementerian Ekraf sehingga bisa diikhtiarkan menuju UCCN. Sebab kalau perbandingan dari pengajuan yang sudah ada, kuliner belum menjadi faktor penunjang utama, baru menjadi pendukung hidupnya ekosistem seni pertunjukan yang diajukan sebelumnya,” imbuh Rian Syaf.

Sementara itu, Ketua Forum Bogor Kota Gastronomi Haidhar Wurjanto menyampaikan bahwa Bogor memiliki ekosistem gastronomi yang sudah lengkap, mulai dari sumber bahan baku, tradisi kuliner, hingga dukungan akademik dan komunitas kreatif. Forum Bogor Kota Gastronomi meyakini bahwa pengembangan identitas gastronomi dapat menjadi strategi untuk memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Bogor, sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner Sunda ke panggung global.

Baca Juga: Sinergi Kemenperin dan Dekranas Perkuat Ekspor Kriya Nusantara

Dalam pertemuan tersebut, Forum Bogor Kota Gastronomi yang baru dibentuk 4 Februari 2026 mempresentasikan kekuatan ekosistem kuliner Bogor yang tidak hanya bertumpu pada ragam makanan, tetapi juga mencakup sejarah, budaya, hingga sistem pengetahuan tradisional masyarakat Sunda yang telah berkembang selama ratusan tahun. Berdasarkan kajian yang dilakukan forum, praktik gastronomi di Bogor memiliki jejak historis panjang, termasuk dokumentasi metode memasak dan budaya pangan yang sudah tercatat sejak abad ke-15.

“Kami perlu mendapat arahan dari Kementerian Ekraf untuk memperbaiki secara administrasi dan koordinasi teknis yang kita akan lakukan ke depannya. Harapan kami bimbingan seperti apa mengerjakan proses teknis sehingga bisa belajar dengan kota-kota lain menuju UCCN. Kami tetap melihat optimis serta positif untuk bersaing dengan sehat sehingga pertumbuhan serta kualitas kuliner semakin meningkat setiap tahun sehingga bisa meningkatkan jumlah wisatawan di Bogor,” imbuh Haidhar Wurjanto.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya