Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Saham Prajogo Pangestu Ini Dibilang Masih Menjanjikan, Meski Sempat Overvalued

Saham Prajogo Pangestu Ini Dibilang Masih Menjanjikan, Meski Sempat Overvalued Kredit Foto: Muhammad Adimaja
Warta Ekonomi, Jakarta -

Prospek saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dinilai masih menjanjikan dalam jangka menengah hingga panjang meski harga sahamnya mengalami lonjakan tajam pasca initial public offering (IPO).

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa melihat secara fundamental, CDIA masih punya cerita pertumbuhan yang kuat, terutama ditopang dari ekspansi bisnis di sektor energi, logistik, serta sinergi usaha dalam ekosistem Grup Barito.

"Kinerja 2025 memang solid dengan pendapatan tumbuh hampir 50% YoY dan laba melonjak signifikan hingga ratusan persen. Ini jadi nilai positif untuk jangka menengah–panjang," kata Reydi kepada wartaekonomi, Kamis (26/3/2026).

Berdasarkan laporan keuangan tahunan auditan per 31 Desember 2025, CDIA membukukan laba bersih sebesar US$127,79 juta sepanjang 2025, melonjak signifikan dibandingkan US$33,75 juta pada 2024. Laba sebelum pajak turut meningkat menjadi US$132,06 juta dari US$34,21 juta pada tahun sebelumnya.

Kinerja tersebut diikuti lonjakan pada neraca. Total aset perseroan mencapai US$1,74 miliar, meningkat 61% dibandingkan posisi 31 Desember 2024 sebesar US$1,08 miliar. Sementara itu, total liabilitas naik 85% menjadi US$607,89 juta dari sebelumnya US$328,36 juta

Meski begitu, menurut Reydi persoalan utama yang sempat membayangi saham CDIA bukan berasal dari kinerja operasional, melainkan dari sisi valuasi yang meningkat terlalu cepat setelah IPO.

Saham CDIA diketahui sempat mencatatkan kenaikan lebih dari 500% sejak melantai di Bursa Efek Indonesia. Lonjakan tersebut mendorong munculnya persepsi bahwa harga saham telah berada pada level mahal.

"Saham ini sempat naik lebih dari 500% sejak IPO sehingga wajar kalau muncul persepsi kemahalan. Koreksi yang terjadi belakangan menunjukkan normalisasi valuasi," ungkap dia.

Reydi menjelaskan, penilaian kemahalan tersebut valid ketika harga saham berada pada fase euforia pasar, di mana pergerakan harga lebih dipengaruhi sentimen dan narasi pertumbuhan dibandingkan faktor fundamental semata.

"Pada level tinggi, market lebih didorong oleh sentimen dan narasi, bukan semata fundamental. Jadi penilaian mahal itu relatif terhadap fase siklusnya," ujarnya.

Ia menambahkan koreksi harga yang terjadi belakangan justru mencerminkan proses normalisasi valuasi. Dengan penurunan harga dari puncaknya, saham CDIA kini mulai bergerak menuju level yang lebih seimbang terhadap fundamental perusahaan.

"CDIA mulai masuk fase penyesuaian valuasi yang lebih dekat ke fundamental dibanding sebelumnya," ungkap dia.

Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan saham CDIA masih berada dalam tren penurunan (downtrend) dalam beberapa waktu terakhir. 

Meski demikian, kata dia, prospek jangka panjang perseroan dinilai tetap positif seiring kuatnya hilirisasi industri nasional dan pertumbuhan rantai pasok (supply chain) Indonesia.

Baca Juga: Laba Bersih Emiten Prajogo Pangestu (CDIA) Melonjak 3 Kali Lipat ke US$127,79 Juta

Baca Juga: Emiten Prajogo CUAN dan PTRO Bidik Tambang Emas Papua Nugini

Baca Juga: Tambah Kapasitas, Emiten Prajogo (BREN) Targetkan 1 GW Panas Bumi di Akhir 2026

“Memang wajar jika pergerakan harga sahamnya sedang mengalami downtrend. Namun jika terjadi pullback, saya melihat potensi penguatan paling tidak menuju level 1.075,” ujar dia kepada wartaekonomi.

Menurutnya target tersebut masih mencerminkan level psikologis yang kuat karena berada di kisaran empat digit, jauh di atas harga penutupan perdagangan terakhir yang berada di sekitar 835 per saham. Adapun pada pergerakan hari ini saham CDIA berada di 865 per saham.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri