Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

AS Siap Lancarkan Serangan Dahsyat Jika Diplomasi Gagal, Ini Respons Komando Militer Iran

AS Siap Lancarkan Serangan Dahsyat Jika Diplomasi Gagal, Ini Respons Komando Militer Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Donald Trump siap melancarkan serangan besar ke Iran jika Teheran menolak kesepakatan terkait perang yang dipimpin AS dan Israel. Ancaman ini muncul di tengah ketidakpastian diplomasi yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan kesiapan presiden untuk bertindak.

“Presiden Trump tidak menggertak dan dia siap melancarkan serangan yang dahsyat. Segala bentuk kekerasan setelah ini, akan terjadi karena Iran menolak untuk mengerti bahwa mereka telah kalah dan menolak untuk menjalin kesepakatan,” ujarnya.

Leavitt menambahkan bahwa ancaman itu bukan sekadar retorika politik, melainkan langkah nyata jika upaya diplomasi gagal. Ia enggan merinci pihak yang tengah diajak bernegosiasi karena sifat pembicaraan yang sangat sensitif.

“Kami tidak akan memerinci negosiasi dan pembicaraan yang masih berlangsung ini karena, tentu saja, seperti yang dapat Anda bayangkan, hal itu merupakan pembicaraan diplomatik yang sangat sensitif,” kata Leavitt. 

Perkiraan Gedung Putih menyebut perang yang meletus sejak 28 Februari 2026 berpotensi berlangsung empat hingga enam pekan. Durasi ini diproyeksikan berdasarkan eskalasi serangan militer dan kompleksitas medan konflik di wilayah tersebut.

Di sisi lain, Iran menolak klaim AS soal diplomasi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa tidak ada pihak yang dapat memercayai diplomasi AS, seraya menyoroti pengalaman buruk masa lalu, termasuk serangan selama perundingan nuklir.

Sikap ini diperkuat oleh Ebrahim Zolfaghari, juru bicara komando militer utama Iran, yang menyebut AS sedang “bernegosiasi dengan dirinya sendiri”. Pernyataan ini sekaligus menekankan perbedaan strategi dan perselisihan internal di pihak musuh.

“Kekuatan strategis yang dibanggakan oleh pihak musuh telah berubah menjadi kekalahan strategis,” kata Zolfaghari.

Ucapan tersebut menjadi peringatan terhadap klaim keberhasilan diplomasi AS. Hal ini menunjukkan ketegangan tak hanya soal militer, tetapi juga kegagalan diplomasi yang memicu saling curiga.

Perbedaan pandangan AS dan Iran memicu kekhawatiran analis internasional. Mereka menilai situasi ini bisa memengaruhi jalur pengiriman energi global dan stabilitas pasar minyak dunia.

Kawasan Timur Tengah menjadi semakin rentan akibat ketidakpastian diplomasi. Keberadaan pasukan militer dan serangan balasan Iran telah menimbulkan risiko terhadap transportasi laut dan udara di wilayah konflik.

Sementara itu, Gedung Putih tetap menegaskan bahwa opsi militer masih menjadi alternatif terakhir. Peringatan Trump dianggap sebagai tekanan bagi Teheran agar menerima jalur penyelesaian yang diusulkan AS dan Israel.

Baca Juga: Gedung Putih: AS Mulai Kurangi Intensitas Operasi Militer di Iran

Diplomasi terselubung di balik layar terus berlangsung, meski kedua pihak saling menuduh dan mengkritik strategi masing-masing. Ketidakpercayaan mendalam antara Washington dan Teheran membuat penyelesaian damai semakin sulit dicapai.

Para pengamat menekankan bahwa eskalasi ini berdampak pada hubungan internasional secara luas. Ketegangan ini bisa memengaruhi aliansi strategis, distribusi energi, dan kestabilan geopolitik global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: