Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dolar Makin Perkasa, Rupiah Takluk ke Rp17.041

Dolar Makin Perkasa, Rupiah Takluk ke Rp17.041 Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup di level Rp17.041 pada perdagangan Selasa (31/3/2026). Mata uang Garuda melemah 39 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.002 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan rupiah masih dipicu dinamika konflik global. Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran turut mendorong harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Harga Brent berjangka tercatat naik 59% sepanjang Maret, sementara West Texas Intermediate (WTI) meningkat 58% pada periode yang sama.

“Ini merupakan kenaikan bulanan tertinggi yang pernah terjadi, sementara WTI mencatat lonjakan tertinggi sejak Mei 2020,” ujar Ibrahim.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang diperkirakan berada di kisaran 5,1%–5,2%. Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Namun, ia mengingatkan adanya hambatan dari perlambatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi serta kinerja ekspor neto. Kondisi ini dipicu memburuknya situasi global sepanjang Maret 2026 akibat konflik di Timur Tengah yang menekan harga energi, pasar keuangan, dan nilai tukar.

Secara musiman, pertumbuhan ekonomi kuartal pertama didorong momentum Ramadan dan Idulfitri. Penyaluran tunjangan hari raya (THR), bantuan sosial, diskon transportasi, serta arus mudik meningkatkan aktivitas konsumsi, khususnya di sektor transportasi, perdagangan, serta makanan dan minuman.

Baca Juga: Rupiah Jebol 17.000! Ini Penyebab Utamanya

Baca Juga: Perkuat Likuiditas dan Stabilitas Rupiah, BI Luncurkan Repo Valas

Di sisi lain, keyakinan konsumen pada Februari 2026 tetap tinggi di level 125,2. Penjualan eceran juga menguat, sementara Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur berada di level 53,8 yang mencerminkan ekspansi dunia usaha. Belanja negara yang tumbuh pesat di awal tahun turut memperkuat sisi permintaan.

“Pola pertumbuhan yang masih didominasi konsumsi memang menggembirakan dalam jangka pendek, tetapi belum cukup sehat untuk jangka panjang,” kata Ibrahim.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait:

Advertisement