Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di level Rp17.181 pada perdagangan Rabu (22/4/2026). Mata uang Garuda melemah 38 poin dari penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.142 per USD.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah hari ini disebabkan kondisi dinamika dalam negeri. Pemerintah Indonesia, disebut Ibrahim, menghadapi tekanan likuiditas besar pada 2026 seiring jatuh tempo utang yang mencapai Rp833,96 triliun, level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
"Lonjakan kewajiban ini menandai fase krusial dalam pengelolaan fiskal, di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan ketidakpastian pasar keuangan global," kata dia kepada wartawan.
Ibrahim menyebut fenomena ini sebagai "tembok utang" atau (debt wall), yakni kondisi ketika beban jatuh tempo utang menumpuk dalam satu periode tertentu. Nilai jatuh tempo 2026 bahkan lebih tinggi dibandingkan 2025 yang sebesar Rp800,33 triliun, dan menjadi puncak dalam siklus pembayaran utang periode 2025–2036.
"Tekanan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Besarnya kewajiban tersebut merupakan akumulasi penerbitan utang pada tahun-tahun sebelumnya, termasuk skema burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia selama pandemi COVID-19," jelas dia.
Dari total jatuh tempo 2026, sekitar Rp154,5 triliun berasal dari instrumen hasil kerja sama tersebut. Besarnya volume utang yang harus dibayar memaksa pemerintah melakukan strategi pembiayaan ulang (refinancing) dalam skala besar.
"Namun, langkah ini tidak lepas dari risiko," ungkap dia.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.142 per Dolar AS di Tengah Resiliensi Ekonomi Nasional
Baca Juga: Komisi XII DPR Dorong Transaksi Batu Bara DMO Gunakan Rupiah untuk Tekan Risiko Fiskal
Sementara dari eksternal, pelemahan rupiah masih dipicu oleh dinamika konflik global. Presiden AS, Donald Trump mengatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, beberapa jam sebelum berakhir, untuk memungkinkan pembicaraan berlanjut guna mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang ekonomi global.
"Langkah tersebut tampak sepihak, dan belum jelas apakah Iran, atau sekutu AS Israel, akan setuju untuk memperpanjang gencatan senjata, yang dimulai dua minggu lalu," ungkap dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement