Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Saham gorengan merupakan istilah yang sering terdengar di pasar modal Indonesia. Istilah ini merujuk pada saham yang harganya lebih banyak digerakkan oleh spekulasi dibandingkan dengan fundamental perusahaan. Akibatnya, harga saham jenis ini bisa naik maupun turun dengan sangat cepat.
Bagi investor, khususnya pemula, sangat penting untuk mengenali saham gorengan agar tidak mengalami kerugian besar hanya karena tergiur dengan keuntungan instan. Pergerakan harga yang ekstrem sering kali menjadi jebakan bagi mereka yang belum memahami risiko di baliknya.
Berikut penjelasan mengenai saham gorengan, mulai dari definisi, ciri-ciri, risiko, hingga cara menghindarinya, agar investor dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan investasi.
Apa Itu Saham Gorengan?
1. Definisi dan Asal Istilah
Saham gorengan merupakan istilah yang populer untuk menyebut saham yang harganya digerakkan secara tidak wajar oleh pihak tertentu, biasanya melalui praktik pump and dump.
Istilah “gorengan” muncul karena pergerakan harga saham ini “digoreng” atau dimanipulasi agar terlihat menarik, padahal tidak mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.
Saham jenis ini umumnya berasal dari perusahaan dengan kapitalisasi kecil, likuiditas rendah, dan kinerja keuangan yang tidak stabil.
2. Mengapa Banyak Investor Tertarik?
Meskipun mempunyai risiko yang tinggi, saham jenis ini sering menarik investor karena potensi keuntungan cepat. Harga saham bisa melonjak drastis dalam waktu singkat, memberikan peluang capital gain besar bagi mereka yang masuk di awal.
Tak hanya itu, adanya rumor, isu, atau sentimen pasar yang sengaja dimainkan membuat saham ini tampak menjanjikan. Namun tetap, terdapat risiko kerugian yang sangat besar karena harga bisa jatuh seketika ketika aksi “goreng” selesai.
Oleh sebab itu, investor pemula wajib memahami bahwa investasi sehat sebaiknya tetap berlandaskan pada fundamental perusahaan, bukan sekadar spekulasi harga.
Ciri-Ciri Saham Gorengan
1. Lonjakan Harga Tidak Wajar
Biasanya, saham jenis ini, menunjukkan kenaikan harga yang sangat cepat dalam waktu singkat, tanpa adanya berita positif atau kinerja fundamental perusahaan yang mendukung. Seringkali, lonjakan ini, merupakan hasil dari aksi spekulatif atau manipulasi pihak tertentu.
2. Volume Transaksi Mendadak Tinggi
Ciri lainnya adalah volume transaksi yang tiba-tiba melonjak drastis. Saham yang sebelumnya sepi peminat mendadak ramai diperdagangkan, menimbulkan kesan seolah-olah saham tersebut sedang diminati banyak investor.
3. Fundamental Perusahaan Lemah
Saham gorengan mayoritas berasal dari perusahaan dengan fundamental yang lemah, dimana kondisi keuangan tidak sehat, laba tidak stabil, atau bahkan merugi. Perusahaan-perusahaan ini biasanya memiliki kapitalisasi pasar kecil dan tidak memiliki prospek bisnis yang jelas.
Risiko Investasi Saham Gorengan
Baca Juga: Apa Itu Saham Konglo? Ciri dan Cara Mengenalinya
Baca Juga: IHSG Naik Terus? Ini Tips Investasi Saham Biar Tak Salah Langkah
1. Skema Pump and Dump
Praktik pump and dump merupakan salah satu risiko utama dari saham gorengan. Pihak tertentu sengaja “menggoreng” harga saham dengan cara menaikkan harga secara cepat melalui transaksi besar-besaran, sehingga terlihat seolah-olah saham tersebut diminati banyak investor. Setelah harga naik tinggi, mereka menjual saham dalam jumlah besar (dump), membuat harga anjlok dan meninggalkan investor lain dengan kerugian.
2. Potensi Penurunan Harga Drastis
Harga saham gorengan sangat rentan turun drastis dalam waktu singkat karena tidak ditopang oleh fundamental perusahaan yang kuat, sehingga Investor yang masuk terlambat atau tidak sempat menjual saat harga puncak bisa kehilangan sebagian besar modalnya.
Pergerakan harga yang ekstrem ini menjadikan saham gorengan berisiko tinggi dan sulit diprediksi.
Cara Menghindari Saham Gorengan
Ada sejumlah cara yang bisa digunakan investor untuk menghindari jebakan saham gorengan, yaitu:
1. Fokus pada Fundamental Perusahaan
Sebelum membeli saham, investor perlu untuk memeriksa aporan keuangan, prospek bisnis, dan manajemen perusahaan, tidak hanya melihat pada pergerakan harga. Pasalnya saham dengan fundamental kuat lebih aman dibanding saham yang hanya digerakkan isu sesaat.
2. Waspadai Lonjakan Harga dan Volume Mendadak
Jika sebuah saham tiba-tiba melonjak tajam tanpa berita atau alasan jelas, kemungkinan besar itu adalah saham gorengan. Investor sebaiknya berhati-hati dan tidak ikut-ikutan membeli hanya karena tren.
3. Perhatikan Likuiditas Saham
Biasanya, saham jenis ini berasal dari perusahaan dengan kapitalisasi kecil dan likuiditas rendah. Hindari saham yang jarang diperdagangkan, lalu tiba-tiba ramai dalam waktu singkat.
Baca Juga: Apa Itu Saham Blue Chip? Alasan Investor Pemula Wajib Tahu
4. Gunakan Strategi Jangka Panjang
Investasi jangka panjang pada saham dengan fundamental baik lebih aman dibanding mengejar keuntungan cepat dari saham gorengan.
Perbedaan Saham Gorengan dan Saham Growth
| Aspek | Saham Gorengan | Saham Growth |
| Pergerakan Harga | Tidak wajar, sering melonjak atau turun drastis tanpa alasan fundamental | Naik stabil seiring pertumbuhan bisnis |
| Volume Transaksi | Mendadak tinggi karena spekulasi | Konsisten, didukung minat investor jangka panjang |
| Fundamental | Lemah, sering merugi atau tidak jelas prospeknya | Kuat, perusahaan tumbuh dengan pendapatan dan laba meningkat |
| Risiko | Sangat tinggi, rawan pump and dump | Lebih terkendali, risiko sesuai kondisi pasar |
| Tujuan Investor | Spekulasi jangka pendek | Investasi jangka panjang untuk pertumbuhan nilai |
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait:
Advertisement