Meski Sekutu Iran, China Dinilai Akan Terdesak untuk Lebih Aktif Buka Selat Hormuz
Kredit Foto: Google Earth
Prancis yakin akan ada sedikit ketegangan hubungan antara China dan Iran. Hal ini menyusul belum pulihnya halur perdagangan dan jalur pelayaran tanker minyak yang melewati wilayah dari Strait of Hormuz atau Selat Hormuz.
Kepala Angkatan Laut Prancis, Nicolas Vaujour mengatakan bahwa saat ini mungkin kedua negara masih terlihat mesta mengingat hubungan strategis dari China dan Iran. Namun Beijing nantinya akan terpaksa untuk mengambil peran lebih aktif dalam upaya memulihkan arus lalu lintas minyak di Strait of Hormuz.
Baca Juga: Anggaran Tertunda, Taiwan Kian Dibayangi Ancaman Serangan dari China
Vaujour menyebut langkah yang saat ini dilakukan mereka masih belum cukup untuk mengembalikan kondisi normal dalam jalur energi vital tersebut. Menurut Vaujour, China hingga saat belum terlihat ikut secara langsung untuk membuka jalur dari Selat Hormuz.
Dirinya mengakui bahwa ada komunikasi politik dari China dan Iran. Hal itu telah memungkinkan sejumlah kapal tetap melintas. Namun, jumlah kapal yang dapat melewati jalur tersebut dinilai masih terlalu sedikit untuk memulihkan arus perdagangan global secara normal.
“Kami belum melihat angkatan laut mereka turun tangan untuk membuka kembali selat tersebut. Di sisi lain, ada dialog politik langsung antara otoritas kedua negara untuk memastikan bahwa sejumlah kapal dapat melewatinya. Apakah itu cukup untuk memulihkan arus lalu lintas normal? Saya tidak percaya begitu,” kata Vaujour.
Beijing dinilainya, pada akhirnya harus lebih aktif dalam upaya internasional untuk membuka kembali jalur tersebut. Vaujour menyebut mereka perlu menunjukkan sikap lebih tegas terhadap kondisi ditutupnya Selat Hormuz.
“Akibatnya, China mungkin harus terlibat lebih langsung dalam debat dan menunjukkan ketidaksabarannya terhadap fakta bahwa selat tersebut tetap tertutup," katanya.
Prancis saat ini tengah berupaya menggalang negara-negara mitra untuk duduk bersama dalam pembahasan tingkat politik guna menentukan langkah pembukaan Selat Hormuz. Pendekatan ini dinilai penting sebelum melibatkan operasi militer di lapangan.
Meski mengedepankan diplomasi, ia menegaskan bahwa militer tetap akan dibutuhkan untuk mengamankan jalur pelayaran, memantau implementasi pembukaan selat dan mengantisipasi ancaman seperti ranjau laut. Ia menyebut kemungkinan penggunaan model misi dari Agenor Mission Uni Eropa.
Militer juga tengah mengevaluasi kemungkinan adanya ranjau laut di Selat Hormuz. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi. Jika terbukti, operasi pembersihan ranjau akan menjadi bagian penting dari upaya pemulihan jalur pelayaran.
“Ini jelas bukan hanya masalah bagi Prancis. Ini menyangkut semua negara mitra. Tetapi ini jelas merupakan masalah yang sedang kami kerjakan, jika penambangan dikonfirmasi, yang, hingga hari ini, belum ditetapkan,” katanya.
Baca Juga: Tiga Raksasa Dunia Bentuk Koalisi Hadapi Dampak Konflik Iran dan Amerika Serikat
Sebelumnya, Presiden Prancis, Emmanuel Macron juga mengusulkan adanya kebijakan yang mengatur pelayanan melalui Selat Hormuz. Ia juga menekankan bahwa upaya internasional hanya dapat dilakukan setelah situasi mereda, serta melibatkan pelaku industri seperti perusahaan asuransi dan pelayaran, serta mendapat persetujuan dari Iran.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement