Kredit Foto: Azka Elfriza
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset keuangan syariah nasional tumbuh 8,61% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp3.100 triliun per Desember 2025.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan kinerja positif tersebut mencerminkan ketahanan industri di tengah dinamika ekonomi.
“Stabilitas sektor jasa keuangan syariah yang tangguh dan resilien tercermin dari beberapa indikator, antara lain kinerja intermediasi perbankan syariah yang tumbuh positif,” ujarnya dalam Penutupan Gebyar Ramadan Keuangan (GERAK) Syariah 2026, Kamis (2/4/2026).
OJK mencatat pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,58% menjadi Rp705 triliun, sejalan dengan peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 10,14%.
Secara rinci, aset perbankan syariah mencapai Rp1.067 triliun. Sementara itu, pasar modal syariah menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp1.800 triliun, diikuti industri keuangan nonbank (IKNB) syariah sebesar Rp188 triliun. Adapun kapitalisasi pasar modal syariah melonjak 31,4% (yoy) menjadi Rp8.900 triliun.
Dalam kesempatan yang sama, Friderica yang akrab disapa Kikimenegaskan capaian tersebut menunjukkan fondasi ekonomi dan keuangan syariah Indonesia yang semakin kuat serta menjadi penopang penting bagi perekonomian nasional.
Baca Juga: AAUI Bangun Pusat Data Asuransi, Siap Meluncur April 2026
Baca Juga: El Nino Godzilla Menghantam, Tiga Lini Asuransi Ini Paling Rentan
Baca Juga: Rasio Klaim Asuransi Kesehatan Masih Terkendali Awal 2026
Dengan basis populasi muslim mencapai 244,7 juta jiwa, potensi pasar keuangan syariah dinilai masih sangat besar.
“Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai dan gaya hidup syariah mendorong minat terhadap produk dan layanan keuangan syariah yang semakin tinggi,” jelasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement