Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Siaga Super El Nino, Pemerintah Perkuat Cadangan Pangan Nasional

Siaga Super El Nino, Pemerintah Perkuat Cadangan Pangan Nasional Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah mulai tancap gas mengantisipasi potensi El Nino yang diprediksi datang dalam waktu dekat. Salah satu langkah utama yang disiapkan adalah memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), yang kini disebut berada dalam kondisi jauh lebih siap dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Sesuai arahan Bapak Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, mitigasi pertamanya, artinya kami begitu mendengar ada fenomena El Nino yang akan terjadi, tentu kita sudah menyiapkan kewaspadaan. Penguatan cadangan pangan menjadi ujung tombak kita," ungkap Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa dalam dialog di Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Berdasarkan data terbaru per 2 April, stok CPP tercatat cukup solid. Beras menjadi komoditas terbesar dengan volume mencapai 4,4 juta ton.

Selain itu, stok jagung pakan berada di level 168 ribu ton, minyak goreng 121 ribu kiloliter, gula pasir 49 ribu ton, daging sapi 8 ribu ton, dan daging kerbau 3 ribu ton. Sementara itu, stok daging ayam dan telur ayam masing-masing tercatat 39 ton dan 17 ton.

Penguatan cadangan ini tidak dilakukan sendiri. Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk menjaga keseimbangan antara produksi dan stok. Peran Perum Bulog juga menjadi krusial, terutama dalam menyerap gabah dari petani yang kemudian diolah menjadi beras sebagai bagian dari penguatan CPP.

"Kami berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian, tentu di sisi produksi harus diperkuat. Kemudian penyerapan oleh Bulog dalam rangka penguatan CPP menjadi titik krusial yang harus kita lakukan. Bapanas sudah menugaskan Bulog untuk melakukan penyerapan gabah yang akan diolah menjadi beras, sebagai penguatan CPP," ujar Ketut.

Tak hanya beras, pemerintah juga memperluas penguatan stok ke berbagai komoditas penting seperti jagung pakan dan minyak goreng. Langkah ini diharapkan mampu menjadi bantalan ketika produksi terganggu akibat cuaca ekstrem.

"Dengan adanya penguatan CPP, diharapkan ke depannya tatkala terjadi kekeringan dan lain sebagainya, yang berdampak pada produksi misalkan, nah tentu ini akan bisa menopang ketersediaan pangan yang dimiliki oleh pemerintah. Itu yang kita lakukan dalam rangka mitigasi awal," ucapnya.

Sinyal kewaspadaan semakin kuat setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional memproyeksikan potensi El Nino mulai terasa pada awal Mei 2026. Wilayah selatan garis ekuator diperkirakan paling terdampak, meliputi Lampung, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga: BRIN Peringatkan Super El Nino 2026 Ancam Ketahanan Pangan, Kemarau Ekstrem hingga Oktober

Baca Juga: Lima Langkah Strategis Kementan Hadapi Kemarau Ekstrem Periode April–Juni 2026

Peneliti Ahli Utama Klimatologi BRIN, Erma Yulihastin, bahkan menyebut fenomena tahun ini berpotensi masuk kategori ekstrem.

"Ini kan weekly update, terus-menerus di update setiap pekan oleh badan-badan meteorologi di berbagai negara maju. Ini bahasa ilmiahnya adalah Super El Nino, yaitu El Nino yang memiliki kekuatan super, dimulai dari bulan Mei. Artinya ini sudah, saya kira sudah 2 kali lipat, efek dari panas ditambah kering," ungkap dia.

"Oleh karena itu, hal-hal seperti ini harus kita antisipasi dan mitigasi, saya kira itu yang harus diantisipasi dari Lampung, kemudian Jawa, Nusa Tenggara, Barat, Timur, Bali, Lombok, dan seterusnya," tambah Erma.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Tag Terkait:

Advertisement