Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Efisiensi Berbuah Manis, PTBA Catat Lonjakan Laba 105% di Kuartal I 2026

Efisiensi Berbuah Manis, PTBA Catat Lonjakan Laba 105% di Kuartal I 2026 Kredit Foto: PTBA
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mencatat lonjakan kinerja yang signifikan pada kuartal pertama 2026. Hingga 31 Maret 2026, Perseroan membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp801,79 miliar, melesat 105% dibandingkan Rp391,47 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian tersebut diraih di tengah pendapatan yang relatif stabil secara tahunan di angka Rp9,93 triliun. Meski volume penjualan turun tipis 1% YoY, Perseroan tetap mampu menjaga kinerja berkat penguatan harga jual rata-rata yang naik 1% YoY. Hal ini didukung pergerakan indeks harga batu bara, di mana Newcastle Index meningkat 14% YoY, meskipun ICI-3 mengalami penurunan 2% YoY.

Dari sisi pasar, komposisi penjualan PTBA terbagi antara domestik sebesar 53% dan ekspor 47%. Adapun lima negara tujuan ekspor utama meliputi Vietnam, Bangladesh, India, Kamboja, dan Thailand.

“Di tengah tantangan curah hujan yang tinggi pada awal tahun, Perseroan mampu menjaga stabilitas penjualan melalui pengelolaan persediaan yang prudent, sekaligus melanjutkan disiplin efisiensi dan selective mining yang mendorong perbaikan struktur biaya. Hasilnya, Perseroan membukukan pertumbuhan laba secara tahunan yang solid, yang merupakan bukti nyata dari ketahanan operasional dan efektivitas strategi yang kami jalankan," kata Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail.

Dari sisi biaya, beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp8,39 triliun, turun 6% YoY. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya volume operasional, di mana produksi batu bara turun 22% YoY dan volume angkutan menurun 7% YoY. Selain itu, stripping ratio juga lebih rendah di angka 5,31x dibandingkan 6,42x pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun demikian, tekanan eksternal mulai terasa. Konflik di Selat Hormuz pada akhir Februari 2026 turut memicu kenaikan harga BBM sekitar 3% YoY. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar untuk aktivitas penambangan dan angkutan kereta api Perseroan.

Dari sisi neraca, total aset PTBA per 31 Maret 2026 tercatat sebesar Rp43,23 triliun, turun 2% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp43,92 triliun, seiring penurunan persediaan serta kas dan setara kas.

Sementara itu, total liabilitas turun 8% menjadi Rp19,56 triliun dari Rp21,30 triliun, sedangkan ekuitas meningkat 5% menjadi Rp23,67 triliun dari Rp22,62 triliun.

Baca Juga: PTBA Kucurkan Rp25,8 Miliar untuk Eksplorasi Batubara di Kuartal I 2026

Baca Juga: Ekspansi Logistik, PTBA Bidik Produksi 65 Juta Ton Tahun Depan

Adapun belanja modal (capex) hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp470 miliar, dengan sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan angkutan batu bara relasi Tanjung Enim–Kramasan.

Dengan kombinasi efisiensi operasional, pengelolaan biaya yang disiplin, serta strategi produksi yang selektif, PTBA menunjukkan ketahanan bisnis yang kuat dalam menghadapi dinamika industri batu bara global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri