Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

UEA Minta Iran 'Dilucuti' untuk Keamanan di Timur Tengah

UEA Minta Iran 'Dilucuti' untuk Keamanan di Timur Tengah Kredit Foto: Reuters/Christopher Pike
Warta Ekonomi, Jakarta -

Uni Emirat Arab (UEA) menuntut adanya pembukaan hingga akses bebas terhadap Selat Hormuz. Ia mengatakan bahwa akses pelayaran dalam wilayah tersebut harus menjadi bagian utama dalam setiap penyelesaian konflik dari Iran dan Amerika Serikat.

Pejabat Senior Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, menegaskan bahwa akses menuju selat tersebut harus menjadi bagian utama dalam setiap penyelesaian konflik dari Timur Tengah. Menurutnya, jalur strategis tersebut tidak boleh dijadikan alat tekanan politik karena memiliki peran krusial bagi perekonomian global.

Baca Juga: Korea Utara Mulai Jauhi Iran, Buka Peluang Hubungan dengan Amerika Serikat

“Selat Hormuz tidak boleh disandera oleh negara mana pun. Kebebasan navigasi harus menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap penyelesaian konflik,” ujarnya.

Gargash memperingatkan bahwa kesepakatan yang tidak mengatasi isu utama justru akan menciptakan konflik yang lebih berbahaya dan ketidakstabilan bagi Timur Tengah. Ia mendorong adanya pembatasan untuk program nuklir serta pengembangan rudal dan drone dari Iran.

Uni Emirat Arab (UEA) juga menginginkan berakhirnya konflik, namun menolak gencatan senjata yang hanya bersifat sementara tanpa menyentuh akar permasalahan yang menurutnya ditimbulkan oleh Iran.

“Kami tidak ingin melihat semakin banyak eskalasi. Tetapi kami tidak menginginkan gencatan senjata yang gagal mengatasi beberapa masalah utama yang akan menciptakan lingkungan yang jauh lebih berbahaya di kawasan ini, terutama program nuklir, rudal dan drone yang masih menghujani kami dan negara-negara lain,” katanya.

Uni Emirat Arab (UEA) juga menyatakan kesiapan untuk bergabung dalam upaya internasional yang guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Upaya tersebut diketahui akan dipimpin oleh Amerika Serikat.

Selat Hormuz diketahui merupakan jalur strategis untuk dua puluh persen pasokan minyak dan gas cair dunia, namun perang telah menghambat pelayaran untuk melalui jalur tersebut.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan akan ada aksi besar yang menyasar infrastruktur vital dari negara itu jika mereka tetap menutup jalur pelayaran dari Selat Hormuz. Ia bahkan menetapkan tenggat waktu yang jelas, yakni Selasa 20.00 (Eastern Time).

Namun Gedung Putih hingga kini belum memberikan konfirmasi apakah pernyataan tersebut menandakan waktu pelaksanaan serangan militer terhadap Iran. Trump sendiri belum memberikan detil lebih lanjut mengenai ancamannya itu.

Baca Juga: Nyaris Gagal hingga Terjebak, Detik-detik Penyelamatan Pilot Amerika Serikat di Iran

Sementara Islamic Revolutionary Guard Corps memperingatkan bahwa jika fasilitas sipilnya diserang, maka pihaknya tidak akan segan menyerang balik infrastruktur yang memiliki keterkaitan dengan ekonomi dari Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement