Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Iran Tanggapi Ancaman Trump: 'Sekarang Cuma Andalkan Kata-Kata Kotor karena Putus Asa'

Iran Tanggapi Ancaman Trump: 'Sekarang Cuma Andalkan Kata-Kata Kotor karena Putus Asa' Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Deputi Bidang Komunikasi di Kantor Kepresidenan Iran Seyyed Mehdi Tabatabaei menanggapi ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan menghancurkan fasilitas utama milik Teheran jika Selat Hormuz tidak segera dibebaskan.

Tabatabaei menegaskan bahwa selat itu baru akan dibuka jika kompensasi atas kerusakan akibat perang telah dibayarkan. Ia menjelaskan bahwa kompensasi ini akan ditarik melalui biaya transit di bawah "rezim hukum baru" di kawasan selat tersebut.

Baca Juga: Trump Ancam Iran: Buka Selat Hormuz atau Kalian Akan Hidup di Neraka

Hal ini sejalan dengan pernyataan Iran sebelumnya yang berencana memanfaatkan kendalinya atas Selat Hormuz untuk memberlakukan sistem tarif bagi kapal-kapal yang melintas, bahkan setelah perang usai.

Dilaporkan oleh Al Jazeera, Tabatabaei menepis ancaman Trump dan menyebutnya sebagai tanda bahwa AS kini "hanya bisa mengandalkan kata-kata kotor dan omong kosong semata karena putus asa.

Sejak konflik pecah, Trump kerap menyuarakan klaim bahwa Iran sedang mencari jalan kesepakatan untuk mengakhiri perang, dan bahwa pertempuran akan segera usai.

Sebaliknya, Iran justru membantah sedang mencari jalan keluar dari perang, dan bersumpah akan memanaskan eskalasi di seluruh kawasan jika infrastruktur mereka diserang.

Sepanjang peperangan berlangsung, para pejabat AS terus mengancam Iran dengan kekuatan militer yang luar biasa jika mereka enggan tunduk pada tuntutan Washington. Pekan lalu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, bahkan melontarkan ancaman untuk melempar Iran "kembali ke Zaman Batu".

Serangan gabungan AS dan Israel sejauh ini telah menyasar sejumlah infrastruktur dan fasilitas sipil, termasuk jembatan, sekolah, fasilitas layanan kesehatan, hingga universitas. Para pakar memperingatkan bahwa sejumlah serangan tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Saat ditanya apakah ia memikirkan dampak dari penargetan infrastruktur seperti jembatan dan pembangkit listrik terhadap penduduk sipil Iran, Trump dengan tegas menjawab kepada *The Wall Street Journal* bahwa ia tidak peduli.

“Tidak, mereka justru ingin kita melakukannya,” ujarnya dalam wawancara tersebut, seraya menambahkan bahwa saat ini rakyat Iran sedang “hidup di neraka”.

Trump juga menolak memberikan perkiraan kapan perang ini akan berakhir, dan hanya mengatakan, “Akan saya beritahu Anda secepatnya.”

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengancam akan menggempur infrastruktur sipil di Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali sesuai batas waktu yang ditetapkannya pada hari Senin.

Ancaman tersebut dilontarkan Trump melalui unggahan media sosialnya yang sarat akan makian pada hari Minggu lalu. Ia kembali mengulang ancamannya untuk meluluhlantakkan infrastruktur vital di penjuru Iran. 

"Tuesday will be "Power Plant Day", and "Bridge Day", all wrapped up in one, in Iran. There will be nothing like it!!! Open the F****** Strait, you crazy b*******, or you’ll be living in Hell– JUST WATCH! Praise be to Allah. (Hari Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, sekaligus Hari Jembatan di Iran. Belum pernah ada yang seperti ini!!! Buka Selat s* itu, dasar b** gila, atau kalian akan hidup di Neraka –LIHAT SAJA NANTI! Segala puji bagi Allah)," tulis Trump dalam unggahannya di platform Truth Social.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait:

Advertisement