Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Deadline Trump Akan Jadi Penentu Arah Harga Bitcoin, Sinyal Kuat Menuju Rally Baru?

Deadline Trump Akan Jadi Penentu Arah Harga Bitcoin, Sinyal Kuat Menuju Rally Baru? Kredit Foto: Unsplash/Kanchanara
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pasar bitcoin menunjukkan ketahanan yang patut dicermati di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Apalagi, hal ini menuju tenggak deadline kesepakatan damai hingga pembukaan jalur penting yang terganggu akibat perang dari Iran dan Amerika Serikat.

Hari Selasa, bitcoin masih bertahan dalam kisaran US$68.000. Ia masih terpantau cukup stabil meski sentimen pasar sempat berada dalam level ekstrem hingga menyentuh angka 9. Ia merupakan zona ketakutan ekstrem.

Baca Juga: IMF: Dampak Perang Iran dan Amerika Serikat Akan Panjang

Bitcoin dalam lima pekan terakhir bergerak stabil di rentang US$65.000–73.000. Stabilitas ini terjadi bahkan ketika indikator ketakutan berada pada level ekstrem. Hal ini sebelumnya hanya muncul saat krisis besar seperti runtuhnya dari Terra (LUNA) dan FTX di 2022.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin menilai kondisi ini mencerminkan struktur pasar yang lebih kuat dibanding siklus sebelumnya. Menurutnya, resiliensi ini bisa menjadi tanda adanya struktur pasar yang telah menguat dalam bitcoin.

“Resiliensi Bitcoin di tengah kondisi seperti ini mengindikasikan struktur pasar yang jauh lebih kuat. Jika bottom siklus terbentuk di sekitar level saat ini, potensi kenaikan pada rally berikutnya bisa sangat menarik, termasuk untuk altcoin strategis seperti Ethereum,” ujarnya.

Namun, dinamika geopolitik turut menjadi faktor kunci yang membayangi pergerakan pasar. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump baru-baru ini memberikan ultimatum ke Iran. Teheran dituntut untuk mencapai kesepakatan damai serta membuka kembali jalur pelayaran tanker minyak dari Selat Hormuz di Selasa 20.00.

Namun Iran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan oleh Amerika Serikat. Teheran justru mengajukan tuntutan balik berupa pencabutan sanksi serta penghentian seluruh operasi militer di Timur Tengah. Upaya diplomatik terakhir kini mengerucut pada proposal gencatan senjata empat puluh lima hari yang dimediasi Pakistan, Mesir, dan Turki. 

Keputusan Washington nanti dinilai akan menentukan arah pasar global, termasuk kripto. Menurut Fahmi, terdapat dua skenario utama yang perlu dicermati oleh investor maupun pemerintah dari Indonesia.

Jika eskalasi konflik terjadi, harga minyak berpotensi melonjak ke kisaran US$120 - US$150. Ia akan disertai tekanan luas pada pasar saham, mata uang dan aset berisiko. Sementara jika terjadi de-eskalasi, pasar berpeluang mengalami relief rally, dengan penguatan tajam dalam saham global, kripto, serta koreksi harga minyak.

Fahmi menilai situasi saat ini sebagai disrupsi energi terbesar sejak krisis minyak dari 1973. Hal tersebut berpotensi membawa dampak luas terhadap ekonomi domestik. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah, potensi kenaikan inflasi, hingga beban fiskal negara menjadi risiko yang perlu diantisipasi.

Baca Juga: Arah Ekonomi Indonesia Ditentukan Keputusan Amerika Serikat, Waspada Harga Minyak Tembus US$150!

“Rupiah tertekan, inflasi meningkat, dan anggaran negara menghadapi tekanan besar. Dalam situasi seperti ini, menyimpan seluruh aset dalam rupiah menjadi risiko tersembunyi. Diversifikasi aset, baik ke dolar maupun bitcoin, menjadi langkah yang rasional,” tegasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement