Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump: Ada Peran China di Balik Gencatan Senjata dari Iran dan Amerika Serikat

Trump: Ada Peran China di Balik Gencatan Senjata dari Iran dan Amerika Serikat Kredit Foto: Reuters
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat buka suara terkait dengan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Menurutnya, China memainkan perang penting untuk menenangkan kawasan dari Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan bahwa dirinya yakin negosiasi gencatan senjata berhasil dilakukan karena adanya tekanan dari China ke Iran. Menurutnya hal tersebut tidak terlepas dari kepentingan dari Beijing di Timur Tengah.

Baca Juga: Usai Gencatan Senjata, Amerika Serikat Klaim Raih 'Kemenangan Total' di Iran

“Saya dengar ya,” ujar Trump, dikutip dari Agence France Presse (AFP).

China dikenal sebagai mitra dekat sekaligus pembeli utama minyak dari Iran. Minyak-minyak tersebut sebagian besar dikirim melalui Selat Hormuz. Kedekatan ini dinilai memberinya pengaruh signifikan dalam mendorong mitranya itu mengambil langkah diplomasi dengan Amerika Serikat.

Beijing di sisi lain juga memiliki hubungan ekonomi kuat dengan negara-negara dari Timur Tengah. Ia sebelumnya beberapa kali mengkritik serangan terhadap infrastruktur dalam kawasan tersebut, menunjukkan kepentingannya dalam menjaga stabilitas regional.

Adapun Amerika Serikat dan China sendiri memiliki hubungan yang sering naik dan turun. Terbaru, Trump dijadwalkan melakukan kunjungan ke Beijing di Mei. Dia dijadwalkan untuk melakukan diskusi penting dengan bertemu Presiden China Xi Jinping.

Sebelumnya, Trump berencana mengunjungi negara tersebut pada awal bulan dari April. Namun Washington menunda hal tersebut karena sang presiden diharuskan untuk memantau perkembangan perang dari Iran dan Amerika Serikat.

Perang Washington dan Teheran sendiri kini mulai menemui titik terang untuk berakhir. Pakistan mengumumkan bahwa negosiasi damai akan berlanjut pekan ini usai tercapainya gencatan senjata selama dua minggu dari Iran dan Amerika Serikat. 

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa kedua negara telah menyepakati gencatan senjata yang berlaku segera dalam seluruh wilayah konflik, termasuk di Lebanon. Ia juga mengonfirmasi bahwa pihaknya akan menjadi lokasi perundingan lanjutan antara kedua pihak.

Iran dan Amerika Serikat diundang untuk hadir dalam pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung pada 10 April 2026. Negosiasi pada hari itu dilakukan guna mencapai kesepakatan final yang menyelesaikan seluruh perselisihan.

Proposal Iran dan Amerika Serikat menjadi perhatian karena akan menjadi penentuan tercapainya kedamaian di Timur Tengah. Washington ingin negara tersebut untuk menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi dan menghentikan program pengayaan uranium. Iran juga diminta untuk membatasi program rudal balistik dan menghentikan dukungan mereka terhadap sekutu regional di Timur Tengah.

Sementara Iran dalam proposal tersebut menuntut jaminan bahwa tidak akan ada serangan lanjutan terhadap wilayahnya. Selain itu, mereka juga meminta penghentian serangan dari Israel ke Hezbollah di Lebanon. Iran juga menginginkan pencabutan seluruh sanksi internasional yang selama ini membatasi ekonominya

Baca Juga: Paus Leo Kecam Ancaman Trump ke Iran: Tak Cuma Masalah Hukum, Tapi Moral

Meski proposal ini menunjukkan adanya upaya kompromi, sejumlah poin dinilai sulit diterima oleh pihak dari Amerika Serikat dan Iran. Hal ini terutama terkait biaya pelayaran dan tuntutan penghentian operasi militer sekutu. Perbedaan kepentingan strategis antara kedua pihak membuat peluang tercapainya kesepakatan masih belum pasti.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar