Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Genap 59 Tahun, Kontribusi Freeport Sentuh Rp187 T dalam 5 Tahun Terakhir

Genap 59 Tahun, Kontribusi Freeport Sentuh Rp187 T dalam 5 Tahun Terakhir Kredit Foto: PTFI
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Freeport Indonesia (PTFI) genap berusia 59 tahun pada 7 April 2026.

Di bawah kendali Holding Industri Pertambangan MIND ID, perusahaan tambang tembaga dan emas tersebut menunjukkan kontribusi fiskal yang signifikan kepada negara dan daerah.

Melansir laporan keuangan perusahaan dalam kurun 2021–2025, total kontribusi PTFI melalui dividen dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai US$11,04 miliar, atau setara sekitar Rp187 triliun (kurs Rp17.000 per dolar AS).

Kontribusi tersebut didominasi dividen sebesar US$8,96 miliar, sementara PNBP mencapai US$2,08 miliar.

Secara historis, kontribusi PTFI menunjukkan tren kuat pasca-divestasi.

Pada 2021, PTFI membagikan dividen sebesar US$234 juta dan PNBP US$1,5 miliar.

Kinerja meningkat signifikan pada 2022, dengan dividen US$3,075 miliar dan PNBP US$145 juta.

Kontribusi kemudian mengalami normalisasi pada 2023, dengan dividen US$708 juta dan PNBP US$140 juta.

Namun, kinerja kembali menguat pada 2024, dengan dividen US$2,95 miliar serta PNBP US$183,8 juta.

Sementara pada 2025, PTFI mencatatkan komitmen dividen US$2,0 miliar, dengan PNBP US$112,4 juta.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch Ferdy Hashiman menilai, besarnya kontribusi ini tidak lepas dari keberhasilan divestasi yang membuat Indonesia menguasai 51 persen saham PTFI.

Menurutnya, hal ini menjadi titik balik bagi kekayaan sumber daya alam nasional.

“Lima tahun terakhir ini kan dia sudah divestasi, jadi Indonesia sudah menguasai 51 persen."

"Kontribusi Freeport untuk negara akhirnya menjadi sangat besar, baik itu dividen maupun pajaknya,” ujar Ferdy saat dihubungi, Rabu (8/4/2026).

Terkait dampak bagi Papua, Ferdy mencatat, PTFI menyumbang 90 persen PDRB bagi Kabupaten Mimika, dan 34 persen bagi Provinsi Papua (sebelum pemekaran).

Dengan adanya porsi saham 10 persen untuk daerah, pendapatan Pemda dari dividen melonjak tajam. 

Belum lagi upaya Freeport dalam membangun sarana dan fasilitas (sarfas) seperti di kesehatan, pendidikan, olahraga, hal itu jadi bagian penting dari sumbangsih Freeport selama 59 tahun di tanah air. 

“Itu bagian dari pengabdian mereka untuk Indonesia."

"Freeport punya rasa memiliki terhadap daerah, hanya saja banyak orang yang tidak tahu bagaimana mereka (PTFI) membangun Papua," imbuh Ferdy.

Ferdy menambahkan, PTFI kini tidak lagi sekadar perusahaan tambang yang mengirimkan konsentrat, melainkan bertransformasi menjadi pilar hilirisasi nasional.

Ia menyoroti peran strategi tembaga yang dihasilkan PTFI dalam mendukung tren energi hijau global.

“Sekarang mereka mengekspansikan bisnisnya hingga hilirisasi."

"Produk mereka seperti emas dan tembaga sangat menopang ekonomi."

"Tembaga misalnya, memiliki porsi sekitar 8 persen dalam komponen baterai EV (Kendaraan Listrik), jadi ini sangat penting untuk mendukung ekosistem baterai di tanah air,” urainya.

Baca Juga: Kontribusi Freeport ke Pemerintah Turun pada 2025, Royalti dan PNBP Menyusut

Ferdy juga memuji keberhasilan PTFI dalam melakukan transisi operasional dari tambang terbuka (open pit) ke tambang bawah tanah (undreground mining).

Proyek ini dinilai sebagai salah satu pencapaian rekayasa paling kompleks di dunia, dengan standar keamanan internasional. (*)

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus