Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sudah Sepakat Gencatan Senjata Kenapa Israel kok Menyerang Lebanon? Wapres AS Minta Harap Maklum

Sudah Sepakat Gencatan Senjata Kenapa Israel kok Menyerang Lebanon? Wapres AS Minta Harap Maklum Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di sejumlah wilayah Lebanon yang menewaskan ratusan orang, hanya beberapa jam setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan sedikitnya 254 orang tewas dan 1.165 lainnya terluka akibat gempuran yang menyasar kawasan padat penduduk, termasuk Beirut, Lembah Bekaa, Gunung Lebanon, Sidon, serta wilayah selatan negara tersebut.

Militer Israel menyatakan serangan itu merupakan operasi terkoordinasi terbesar sejak eskalasi konflik terbaru pada 2 Maret lalu, dengan target lebih dari 100 pusat komando dan fasilitas militer milik Hizbullah.

Al Jazeera melaporkan situasi terjadi kondisi darurat medis dan akan segera diberlakukan. Ketua Sindikat Dokter Lebanon, Elias Chlela, meminta seluruh tenaga medis dari berbagai spesialisasi untuk segera menuju rumah sakit. Salah satu rumah sakit utama di Beirut juga melaporkan krisis stok darah dan mengimbau masyarakat untuk melakukan donor.

Di tengah serangan tersebut, muncul perbedaan tajam terkait status Lebanon dalam kesepakatan gencatan senjata AS–Iran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan tersebut.

Trump bahkan menyebut konflik di Lebanon sebagai pertempuran terpisah. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan pemisahan itu dilakukan untuk mengubah situasi strategis di Lebanon.

Sebaliknya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator, menyatakan gencatan senjata juga mencakup wilayah Lebanon.

Dari dalam negeri, Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri mengecam serangan tersebut sebagai kejahatan perang dan menyebutnya sebagai ujian serius bagi hukum internasional.

Pihak Hizbullah menilai serangan Israel sebagai pelanggaran berat terhadap gencatan senjata. Anggota parlemen kelompok itu, Hassan Fadlallah, memperingatkan bahwa serangan berkelanjutan dapat berdampak pada keseluruhan kesepakatan serta menegaskan hak kelompoknya untuk melakukan respons.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengancam akan memberikan balasan jika serangan terhadap Lebanon tidak dihentikan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga mendesak AS untuk menentukan sikap antara mempertahankan gencatan senjata atau melanjutkan konflik melalui Israel.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut perbedaan pandangan tersebut sebagai kesalahpahaman yang dapat dimaklumi, meski pernyataannya bertentangan dengan posisi mediator Pakistan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: