Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bukan Cuma Jual Mobil, BYD Kini Siap Menginvasi Dunia dengan Stasiun Cas Super Cepatnya

Bukan Cuma Jual Mobil, BYD Kini Siap Menginvasi Dunia dengan Stasiun Cas Super Cepatnya Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Tidak lama setelah mengumumkan teknologi pengisian daya skala megawatt bernama Flash Charging di China, BYD mengonfirmasi akan membawa inovasi tersebut ke pasar global.

Jaringan pengisian daya ultra-cepat ini dirancang dengan ambisi untuk menyaingi kecepatan dan jangkauan jaringan Supercharger milik Tesla.

Autocar melaporkan fasilitas pengisian daya DC ini dirancang dengan struktur kanopi berbentuk huruf T yang menyerupai SPBU konvensional, memungkinkan kendaraan untuk melakukan pengisian daya dari kedua sisi dan teknologi ini mampu mengalirkan daya hingga 1.500 kW.

Dengan kapasitas tersebut, mobil listrik murni (BEV) BYD dan Denza yang kompatibel diklaim dapat mengisi daya dari 10% hingga 70% hanya dalam waktu lima menit.

Sementara itu, pengisian daya hingga 97% dapat dicapai dalam waktu hanya 9 menit. Jaringan ini juga dapat digunakan untuk kendaraan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).

Sebagai langkah awal ekspansi, BYD menargetkan pembangunan 6.000 stasiun Flash Charging di luar China dalam 12 bulan ke depan, dengan 3.000 stasiun dialokasikan untuk kawasan Eropa.

Angka ini akan menambah 5.000 stasiun yang sudah beroperasi di China, yang jumlahnya ditargetkan melonjak menjadi 20.000 stasiun pada akhir tahun ini.

Meski ekspansi ini terbilang masif, BYD masih punya tugas untuk mengejar dominasi Tesla yang telah menginstalasi lebih dari 80.000 Supercharger di seluruh dunia.

BYD tidak perlu mengalokasikan investasi infrastruktur di Amerika Serikat, mengingat pabrikan otomotif asal China tersebut masih menghadapi kendala untuk masuk ke pasar AS.

Untuk mencegah teknologi berdaya tinggi ini membebani jaringan listrik (electrical grid) lokal, stasiun Flash Charging diintegrasikan dengan Battery Energy Storage Systems (BESS).

Sistem penyimpanan energi ini akan diisi mode slow ketika stasiun sedang tidak digunakan, salah satunya dengan memanfaatkan tenaga surya.

Namun, kecepatan pengisian daya diproyeksikan akan menurun jika cadangan energi pada baterai penyimpanan tersebut habis.

Meski terbuka untuk semua merek, BYD berencana menerapkan kebijakan khusus agar fasilitas ini tidak dipenuhi oleh kendaraan dengan kapasitas penerimaan daya yang lambat.

BYD mempertimbangkan untuk menerapkan sistem denda waktu (congestion fee) menyerupai kebijakan Tesla.

"Kami masih mencari cara untuk membatasi orang yang mengisi daya pada batas 50 kW. Ini akan bergantung pada masing-masing pasar, tetapi kami mungkin akan menerapkan batasan waktu beserta dendanya," jelas pihak BYD.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Advertisement