Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

CEO BYD Wang Chuanfu: Mobil Murah Kami Bisa Pakai fitur Smart Driving yang Selama ini Cuma untuk Mobil Mewah

CEO BYD Wang Chuanfu: Mobil Murah Kami Bisa Pakai fitur Smart Driving yang Selama ini Cuma untuk Mobil Mewah Kredit Foto: Twitter/Zhao Dashuai
Warta Ekonomi, Jakarta -

BYD, raksasa mobil listrik asal China, menyatakan sudah siap meluncurkan teknologi otonom meski masih menunggu lampu hijau dari pemerintah.

Regulasi yang memungkinkan penggunaan mobil self-driving secara luas bagi konsumen umum diperkirakan baru akan disahkan paling cepat tahun 2027.

Sambil menanti regulasi tersebut, BYD akan memperluas sistem bantuan pengemudi semi-otomatis (Advanced Driver Assistance System) ke semua lini mobilnya di China.

Yang mengejutkan, fitur canggih ini akan disematkan bahkan pada mobil kelas terjangkau seperti hatchback Seagull yang harganya mulai Rp150 juta.

Fitur ini menggunakan sensor LiDAR dan akan dijual sebagai paket tambahan dengan harga relatif murah, yaitu 12.000 yuan (sekitar Rp26 juta). Strategi ini membuka peluang pendapatan baru bagi BYD di tengah perang harga ketat industri otomotif China.

"Melalui langkah ini, mobil murah seperti Seagull atau Dolphin juga bisa memakai fitur smart driving yang selama ini hanya dinikmati pemilik mobil mewah,” ujar Wang Chuanfu, Chairman dan CEO BYD.

Wang menambahkan bahwa paket tambahan mereka adalah “yang paling jujur di industri”, karena dijual hanya sesuai biaya produksi.

Asuransi “God’s Eye” Selama Satu Tahun

BYD juga meluncurkan program asuransi berani bernama God’s Eye. Perusahaan akan memberikan asuransi gratis selama satu tahun yang menjamin ganti rugi penuh jika terjadi kecelakaan saat fitur assisted-driving aktif.

Fitur God’s Eye sebenarnya sudah menjadi standar di sebagian besar mobil BYD sejak tahun lalu. Namun, versi awalnya menuai kritik karena fitur yang didapatkan konsumen berbeda-beda tergantung harga mobil — mobil murah hanya mendapat cruise control tol, sementara fitur kota canggih hanya ada di varian mahal.

Kekuatan Data Besar

Untuk mempercepat pengembangan software, BYD memanfaatkan skala produksinya yang sangat besar. Perusahaan mengklaim memiliki lebih dari 3,15 juta mobil dengan hardware advanced driver-assistance di jalanan, yang menghasilkan 200 juta kilometer data berkendara setiap hari.

Meski begitu, beberapa analis industri mengingatkan bahwa volume data yang besar tidak serta-merta membuat sistem menjadi matang. Performa autonomous driving BYD masih dianggap tertinggal dibandingkan Tesla.

Tesla sendiri menggunakan pendekatan berbeda dengan vision-only (hanya kamera dan neural network) tanpa LiDAR. Perusahaan asal Amerika itu juga tengah berusaha mendapatkan izin untuk meluncurkan Full Self-Driving (FSD) di China.

Potensi viral: Judul yang kuat, bahasa ringan tapi informatif, fakta mengejutkan (fitur canggih di mobil Rp150 juta), serta kutipan langsung dari Wang Chuanfu. Bisa langsung dipakai untuk artikel berita atau thread di media sosial.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: