Kredit Foto: IPOT
IPOT menyatakan bahwa keputusan membuka akses ini bukan bagian dari strategi promosi, melainkan respons terhadap kondisi industri di mana sebagian besar investor belum memiliki akses terhadap teknologi trading yang memadai.
Ia menambahkan bahwa infrastruktur teknologi yang digunakan IPOT dibangun melalui investasi jangka panjang dan telah digunakan untuk mengelola dana kelolaan sebesar Rp312 triliun.
Dalam konteks pasar, kebutuhan terhadap data real time semakin relevan seiring meningkatnya volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada kuartal I 2026, yang memperlebar gap antara investor yang memiliki akses data real time dan yang tidak.
Investor tanpa akses data tersebut cenderung masuk pada fase distribusi harga atau menahan posisi rugi karena tidak mengetahui pergerakan pelaku pasar besar (smart money). Sebaliknya, investor yang menggunakan data real time dapat mengidentifikasi tekanan pasar lebih awal dan mengambil keputusan berbasis data aktual.
Baca Juga: BEI Desak 9 Emiten HSC Termasuk BREN Hingga DSSA Segera Benahi Struktur Kepemilikan Saham
Baca Juga: Saham Paling Boncos dalam Sepekan Kala IHSG Ngebut 6,14%
IPOT menilai bahwa akses terhadap teknologi trading yang setara menjadi faktor penting dalam menciptakan ekosistem pasar yang lebih transparan dan efisien.
“IPOT memahami bahwa tidak semua investor bebas berpindah sekuritas dengan mudah. Maka solusinya adalah membawa infrastruktur IPOT kepada mereka, bukan memaksa mereka datang ke IPOT,” ujar Sergio.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: