Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pengumuman Trump Jadi Sorotan, Ada Dugaan Insider Trading Minyak Terkait Perang Iran-Amerika Serikat

Pengumuman Trump Jadi Sorotan, Ada Dugaan Insider Trading Minyak Terkait Perang Iran-Amerika Serikat Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Amerika Serikat tengah menyelidiki serangkaian transaksi kontrak berjangka minyak yang dilakukan sesaat sebelum perubahan besar kebijakan perang dari Washington dan Iran.

Ketua Commodity Futures Trading Commission, Michael Selig mengatakan bahwa terdapat kekhawatiran potensi insider trading dalam pasar komoditas global terkait dengan perang dari Iran dan Amerika Serikat. Dirinya menegaskan pihaknya akan menindak tegas pelanggaran.

Baca Juga: Trump Tak Ungkap Biaya Konflik Iran-Amerika Serikat, Namun Ingin Anggaran Militer US$1,5 Triliun

"Saya ingin menegaskan dengan sangat jelas: kepada siapa pun yang terlibat dalam penipuan, manipulasi, atau perdagangan orang dalam di pasar mana pun: kami akan menemukanmu," kata Selig, dikutip dari Reuters.

Namun, hingga kini belum ada konfirmasi adanya pelanggaran spesifik. CFTC sendiri tengah menyelidiki perdagangan dalam platform dari Intercontinental Exchange dan CME.

Data yang diminta mencakup identitas pelaku transaksi melalui sistem pelacakan khusus, terkait dengan transaksi mencurigakan yang terjadi pada 23 Maret dan 7 April.

Pada salah satu hari tersebut, terdapat transaksi mencurigakan menjelang pengumuman terkait dengan operasi militer di Iran. Beberapa transaksi disebut dilakukan dengan timing sangat presisi, bahkan menghasilkan keuntungan hingga jutaan dolar.

Laporan menyebutkan salah satu kasus mencakup taruhan sekitar US$950 juta pada harga minyak, hanya beberapa jam sebelum pengumuman gencatan senjata dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Kasus ini memunculkan kekhawatiran bahwa informasi terkait perang dan diplomasi bisa disalahgunakan hingga kompleksitas pasar derivatif.

CME Group sendiri menyatakan telah bekerja sama dengan regulator dan mengawasi aktivitas pasar secara ketat. Sementara Gedung Putih memperingatkan staf agar tidak memanfaatkan posisi mereka untuk keuntungan dalam pasar keuangan.

Perang Iran dan Amerika Serikat sendiri belumlah usai. Sebelumnya, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt menegaskan bahwa pembicaraan tetap berjalan dan dinilai produktif. Menurutnya, terdapat kemungkinan besar terjadinya negosiasi lanjutan dari Iran dan Amerika Serikat.

“Diskusi ini terus berlangsung dan kami merasa baik dengan prospek tercapainya kesepakatan,” ujarnya.

Amerika Serikat juga membuka peluang untuk kembali hadir dalam negosiasi secara tatap muka. Menurut Leavitt, jika pembicaraan tatap muka kembali digelar, besar kemungkinan akan berlangsung di Pakistan.

"Saya juga melihat beberapa laporan tentang potensi diskusi tatap muka," kata Leavitt.

Adapun, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyatakan bahwa peluang dimulainya kembali negosiasi untuk mengakhiri perang keduanya sangat besar. Ia kemungkinan akan kembali digelar di Pakistan.

"Indikasi yang kami miliki menunjukkan bahwa kemungkinan besar pembicaraan ini akan dimulai kembali," kata Guterres.

Guterres mengungkapkan bahwa ia telah bertemu dengan pejabat tinggi setempat, dan memuji peran negara tersebut dalam mendorong proses perdamaian. Pakistan sebelumnya menjadi tuan rumah pembicaraan dari Iran dan Amerika Serikat. Ia berperan sebagai mediator utama.

Pembicaraan Islamabad yang pertama sendiri telah gagal membuatkan kesepakatan antara Washington dan Teheran. Ia sendiri merupakan pertemuan langsung pertama dalam lebih dari satu dekade dari Iran dan Amerika Serikat. Ia juga merupakan dialog tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979.

Namun, perundingan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan konkret untuk mengakhiri konflik. Menurut Washington, Iran menolak sejumlah tuntutan utama antara lain menghentikan seluruh pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.

Amerika Serikat diketahui juga meminta mereka untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok seperti Hamas, Hezbollah dan Houthi. Ia juga menuntut adanya pembukaan penuh akses dari Selat Hormuz.

Iran di sisi lain melaporkan tuntutan yang berlebihan dari Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Neberapa isu sebenarnya telah mencapai titik temu, namun dua hal utama masih menjadi ganjalan yakni program nuklir hingga kontrol dan akses dari Selat Hormuz.

Baca Juga: Usai Trump, Giliran Wapres Amerika Serikat Tegur Paus Leo: Hati-hati Saat Bicara

Teheran mengatakan bahwa pihaknya meragukan komitmen damai dari Amerika Serikat. Pihaknya telah menawarkan berbagai inisiatif “berpandangan ke depan”, namun hal tersebut malah direspons dengan agenda berbeda yang menghambat kesepakatan dari Washington.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement