Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Klaim China Janji Tak Kirim Senjata ke Iran

Trump Klaim China Janji Tak Kirim Senjata ke Iran Kredit Foto: Reuters
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirimkan permintaan khusus ke China. Hal ini terkait dengan kabar bahwa negara tersebut memasok senjata untuk Iran.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya telah meminta hal tersebut untuk dihentikan ke Presiden China, Xi Jinping. Menurutnya, Xi merespons dengan menyatakan bahwa pihaknya tidak melakukan pengiriman senjata ke Teheran.

Baca Juga: Stok Dikuras Perang Iran, Amerika Serikat Lobi Ford hingga General Motors untuk Produksi Senjata

"Saya menulis surat kepadanya meminta agar dia tidak melakukan itu, dan dia membalas surat saya yang pada dasarnya mengatakan bahwa dia tidak akan melakukan itu," kata Trump.

Trump juga menyinggung perbedaan kebutuhan energi antara kedua negara. Menurutnya, China sangat bergantung terhadap impor minyak, tidak seperti Amerika Serikat.

"Dia adalah seseorang yang membutuhkan minyak. Kita tidak," kata Trump.

Sebelumnya, laporan intelijen menyebut adanya indikasi pasokan senjata dari China ke Iran. Trump yang mendengar hal tersebut memperingatkan bahwa negara mana pun yang memasok senjata ke negara terkait akan menghadapi tekanan ekonomi hingga tarif langsung yang mencapai 50%. 

Terbaru, Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent menegaskan bahwa sanksi hingga bloade akan menghentikan pembelian minyak dari Teheran ke Beijing. China diketahui menyerap lebih dari 80% ekspor minyak dari Iran.

"Kami percaya (bahwa dengan) blokade ini, akan ada jeda dalam pembelian oleh China," kata Bessent.

Departemen Keuangan Amerika Serikat juga disebut telah mengirimkan peringatan kepada dua bank di China. Peringatan tersebut menyebut bahwa mereka terancam sanksi jika pihaknya menemukan aliran dana dari Iran.

"Kami memberi tahu mereka bahwa jika kami dapat membuktikan bahwa ada uang dari negara tersebut yang mengalir melalui rekening mereka, maka kami bersedia untuk memberlakukan sanksi sekunder," kata Bessent.

Diketahui, Amerika Serikat telah mengumumkan bahwa pihaknya akan mulai memblokade wilayah dari Selat Hormuz. Hal tersebut menyusul kegagalan negosiasi untuk menghentikan konflik dari Washington dan Iran.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau U.S. Central Command (CENTCOM) sendiri menegaskan bahwa blokade akan diberlakukan secara menyeluruh dan tanpa pengecualian terhadap kapal dari semua negara. Kebijakan ini merupakan bagian dari langkah lanjutan dalam konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Mereka juga juga mengumumkan bahwa pihaknya mulai melakukan persiapan untuk operasi pembersihan ranjau laut dalam wilayah dari Selat Hormuz.

Baca Juga: Walau Dihujani Kritik Trump, Paus Leo Serukan Dunia Lawan Korupsi dan Akhiri Perang Global

Operasi tersebut melibatkan dua kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut Amerika Serikat. USS Frank E. Peterson (DDG 121) dan USS Michael Murphy (DDG 112) dikerahkan dan dilaporkan telah melintasi wilayah dari Selat Hormuz.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement