Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Indonesia-Australia Kolab Hadirkan Detect Me, Pendeteksi Real Time Kesehatan Ibu Hamil

Indonesia-Australia Kolab Hadirkan Detect Me, Pendeteksi Real Time Kesehatan Ibu Hamil Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di Indonesia, salah satu isu kesehatan yang masih mencemaskan ialah angka kematian ibu yang terbilang masih tinggi. Indonesia bahkan disebut-sebut sebagai salah satu negara dengan angka kematian ibu tertinggi di Asia Tenggara.

Melihat realita tersebut, Indonesia dan Australia berkolaborasi dalam proyek riset bernama Ultralight dengan menghadirkan Detect Me. Detect Me merupakan perangkat pemantauan janin mandiri atau sebuah alat yang bisa digunakan ibu hamil sendiri di rumah, tanpa harus menunggu jadwal kunjungan bidan. 

Data yang direkam alat ini langsung tersinkronisasi ke aplikasi mobile, lalu diteruskan ke platform web yang bisa dipantau secara real time oleh tenaga kesehatan di puskesmas maupun bidan desa.

Jika terdeteksi kelainan, intervensi medis dapat segera dilakukan sehingga memperkecil risiko keterlambatan yang selama ini menjadi penyebab utama tingginya angka kematian ibu dan bayi.

Associate Professor Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran (Unpad), Restuning Widiasih, berbicara soal tantangan yang dihadapi dalam penggunaan Detect Me.

"Ada culture ibu hamil yang terbiasa dilayani, tinggal tidur saja menunggu nakes datang. Sekarang mereka diminta memakai alat sendiri di rumah. Itu saja sudah bikin sebagian dari mereka takut," ungkapnya saat menjadi pembicara di event Inovasi, Data, Ekonomi (IDE) Katadata Future Forum 2026, yang digelar di Djakarta Theatre, Jakarta, Rabu (15/4).

Restuning mengatakan, selama ini sistem kesehatan menempatkan ibu hamil sebagai penerima layanan pasif sehingga mengubah posisi itu butuh pendekatan yang jauh lebih dari sekadar membagikan alat. Di sisi lain, ketika alat Detect Me dititipkan ke keluarga, para suami yang biasanya kurang terlibat dalam urusan kehamilan tiba-tiba ikut aktif. 

Mereka membantu istri mengoperasikan alat, memperhatikan data, bahkan mulai bertanya-tanya soal kondisi janin. Sebuah efek samping yang menyenangkan dari sebuah inovasi teknologi. Yang membedakan Detect Me dari inovasi kesehatan lainnya adalah kesadaran para pengembangnya bahwa alat saja tidak cukup. "Detect Me tidak ada dampaknya kalau tidak ada kolaborasi," tegas Restuning.

Ultralight, lanjut Restuning, menawarkan satu hal yang selama ini kerap hilang dalam diskursus kesehatan ibu yakni optimisme berbasis solusi. Dengan memindahkan titik awal deteksi ke level rumah tangga, inovasi ini berpotensi mengubah paradigma layanan kesehatan dari yang semula menunggu menjadi lebih antisipatif.

“Jika dikembangkan secara konsisten dan diintegrasikan ke dalam sistem kesehatan nasional, bukan tidak mungkin jarak antara rumah di pelosok desa dan fasilitas kesehatan akan semakin tereduksi,” tambah dia.

Ketua Umum Himpunan Pengembangan Ekosistem Alat Kesehatan Indonesia (HIPELKI), Randy Teguh, mengapresiasi kehadiran Detect Me. "Inovasi seperti ini menarik untuk masuk ke pasar pemerintah karena efisien. Tapi ada paradoks bisnis dimana harga murah belum tentu laku," katanya. 

Ia mengingatkan bahwa pada 2014, alat serupa pernah dikembangkan di Indonesia namun hak kekayaan intelektualnya malah dibeli perusahaan asing untuk dikembangkan di Afrika.

"Momentumnya sekarang berbeda. Dalam konteks kebijakan kesehatan nasional yang semakin serius menargetkan penurunan angka kematian ibu, Detect Me hadir di waktu yang tepat,” tegas dia.

Visi ke depannya sistem ini bisa berjalan otomatis, tidak bergantung penuh pada pemantauan manual tenaga kesehatan. Integrasi dengan ekosistem kesehatan pemerintah, dari puskesmas hingga sistem pelaporan nasional, menjadi kunci agar inovasi ini benar-benar berskala.

Dalam peta jalan pengembangan berikutnya, tim Ultralight ingin membuat perangkat yang lebih ringkas, bahkan dalam bentuk chip, agar benar-benar sesuai namanya ultralight. Ringan di tubuh, ringan di pikiran, tapi berat dampaknya.

Baca Juga: Layanan BPJS Kesehatan Kini Bisa Diakses 24 Jam Lewat WhatsApp

Baca Juga: Jawab Kebutuhan Peserta, Direksi Baru BPJS Kesehatan Beberkan 8 Program Andalan

Adapun proyek ini melibatkan tujuh institusi dari Indonesia dan Australia, mulai dari Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Telkom University, Poltekkes Kemenkes Kupang, Rumah Sakit Hasan Sadikin, hingga University of Newcastle Australia.

Lokasi penelitiannya memilih titik-titik paling rentan yakni Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan komunitas imigran pengungsi di Australia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Belinda Safitri

Advertisement