Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ekosistem Tekstil RI Paling Lengkap, Siap Tanding Produk Asing

Ekosistem Tekstil RI Paling Lengkap, Siap Tanding Produk Asing Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan Indonesia mempunyai ekosistem tekstil yang paling lengkap dari hulu hingga hilir dibanding negara lain.

Hal tersebut menjadi modal kuat Indonesia untuk meningkatkan daya saing, baik di pasar domestik maupun internasional. Ini disampaikan Mendag saat mengunjungi pameran Indo Intertex 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO), Jakarta, pada Kamis, (16/4/2026).

“Ekosistem tekstil dan produk tekstil kita terlihat sangat bagus. Saya kira ekosistem (tekstil) kita paling lengkap mulai dari bahan baku; pabriknya; distribusinya; desainernya; usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)-nya ada semua dan bisa berjalan dengan baik,” ujar Mendag, dikutip dari siaran pers Kemendag, Jumat (17/4).

Ia optimistis kinerja industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional akan terus menunjukkan tren positif di tengah dinamika perdagangan global.

Optimisme tersebut didukung oleh kinerja ekspor TPT Indonesia yang konsisten mencatatkan capaian positif. Pada 2025, nilai ekspor TPT mencapai USD 11,98 miliar dengan surplus sebesar USD 2,81 miliar. Capaian ini mencerminkan kualitas produk tekstil Indonesia yang mampu bersaing di pasar global.

Untuk memperkuat kinerja ekspor, Mendag Busan menekankan pentingnya pemanfaatan berbagai perjanjian dagang yang telah dimiliki Indonesia sebagai instrumen strategis pembuka akses pasar.

“Kita mempunyai banyak perjanjian dagang, termasuk dengan Amerika Serikat (AS). Ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar USD 30 miliar secara keseluruhan. Kemudian, surplus kita dengan AS sebesar USD 18,11 miliar, yang merupakan surplus terbesar Indonesia (pada 2025). Oleh karena itu, kita jaga dan optimalkan pasar AS,” ujar Mendag Busan.

Mendag Busan menambahkan, kondisi geopolitik saat ini memberikan tantangan dan dampak di berbagai sektor industri, termasuk tekstil. Meski demikian, ia menilai, pelaku industri tekstil nasional tetap menunjukkan ketahanan dan kemampuan untuk beradaptasi di tengah tantangan tersebut.

“Secara global semua sama-sama terkena imbas perang. Tapi, saya tanya (pelaku usaha) langsung tadi, teman-teman justru sanggup berdaya saing. Teman-teman sanggup berkompetisi dengan produk-produk asing karena ekosistem kita lebih lengkap dibanding negara lain,” ujar Mendag Busan.

Menurut Mendag, peningkatan daya saing menjadi kunci untuk memperkuat posisi industri dalam negeri sekaligus mengendalikan impor.

Baca Juga: Industri TPT Jadi Pilar Ekonomi, Surplus dan Lapangan Kerja Meningkat

Baca Juga: Gejolak Selat Hormuz, Menperin Pastikan Stok Plastik Nasional Aman

“Selain potensi dalam negeri, ekspor cukup bagus. Kalau kualitas bagus dan punya daya saing, kita bisa mengendalikan impor. Kita juga harus mempunyai daya saing agar bisa bersaing dengan produk-produk asing,” tutur Mendag Busan.

Indo Intertex 2026 merupakan pameran industri tekstil dan garmen internasional terkemuka yang diselenggarakan secara rutin di Indonesia. Pameran ini menjadi platform strategis bagi pelaku industri TPT dari berbagai negara untuk bertemu, menjalin kemitraan bisnis, serta memperluas jaringan pasar. Kegiatan ini mencakup berbagai sektor, mulai dari produsen serat, benang, kain, garmen, mesin tekstil, hingga produk dan aksesori tekstil lainnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Advertisement