Kredit Foto: BRJ
Kinerja ekspor Indonesia dinilai masih terjaga di tengah tekanan global, didukung pembiayaan yang terus mengalir dari lembaga keuangan negara. Namun di balik stabilitas tersebut, ancaman kenaikan biaya produksi mulai membayangi pelaku usaha.
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia mencatat aktivitas ekspor nasional tetap berjalan meski terjadi gejolak geopolitik global. Gangguan rantai pasok dan tekanan nilai tukar belum menghentikan pipeline pembiayaan yang masih berlangsung.
Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI Sulaeman menyebut seluruh portofolio pembiayaan ekspor masih dalam kondisi berjalan baik.
“Sekarang ini sampai posisi terakhir, dari semua pipeline yang kita miliki itu masih ongoing itu, masih running well,” ujarnya dikutip dari ANTARA.
Untuk menjaga momentum tersebut, LPEI mengandalkan skema Penugasan Khusus Ekspor (PKE) sebagai instrumen utama pembiayaan. Program ini mencakup dukungan dari tahap praekspor hingga pascaekspor serta fasilitas penjaminan bagi pelaku usaha.
Secara nilai, pembiayaan PKE telah mencapai Rp13,7 triliun yang tersebar dalam berbagai program strategis. Setiap penyaluran dana dalam skema ini bahkan disebut mampu menciptakan efek pengganda hingga tiga kali lipat terhadap perekonomian.
Selain itu, kontribusi terhadap devisa juga tercatat signifikan. Sepanjang 2025, program PKE Trade Finance menghasilkan penciptaan dan penghematan devisa sebesar Rp21,12 triliun.
Di tengah capaian tersebut, tekanan global tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Gangguan di jalur distribusi seperti Selat Hormuz turut memicu kelangkaan bahan baku tertentu.
Dampak tersebut mulai dirasakan oleh sektor industri, khususnya manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan harga input berpotensi menekan margin keuntungan pelaku usaha.
LPEI sendiri telah melakukan stress testing terhadap portofolio pembiayaan untuk mengantisipasi risiko. Langkah ini bertujuan mengidentifikasi sektor dan debitur yang paling rentan terhadap gejolak global.
Selain itu, lembaga tersebut juga memperketat seleksi pembiayaan dengan memastikan adanya underlying transaksi yang jelas. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga kualitas pembiayaan di tengah ketidakpastian.
Dari sisi pelaku usaha, tekanan biaya mulai terasa akibat gangguan pasokan global. Direktur Utama PT Mega Global Food Industry Richard Cahadi menyebut kenaikan harga bahan baku plastik menjadi tantangan utama.
Ia menjelaskan gangguan suplai naphta akibat konflik global memicu lonjakan harga kemasan. Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk menjaga ketersediaan bahan baku agar produksi tetap berjalan.
Baca Juga: Produksi Pupuk Nasional Surplus 1,5 Juta Ton, Indonesia Siap Ekspor ke India
"Kalau kami tidak didukung LPEI, kami pasti akan kesulitan cashflow untuk beli bahan baku dulu," ujarnya.
Ia menegaskan peran pembiayaan menjadi krusial untuk menjaga likuiditas di tengah tekanan biaya.
Di tengah ketidakpastian global, stabilitas ekspor Indonesia masih ditopang oleh dukungan pembiayaan yang kuat. Namun, keberlanjutan kinerja tersebut tetap bergantung pada kemampuan pelaku usaha mengelola risiko biaya yang terus meningkat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement