Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Survei CPA Australia Sebut 86 Persen Usaha Kecil Indonesia Yakin Tumbuh di 2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid

Survei CPA Australia Sebut 86 Persen Usaha Kecil Indonesia Yakin Tumbuh di 2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sebanyak 86 persen pelaku usaha kecil di Indonesia menyatakan optimisme untuk tumbuh pada tahun ini, menjadi tingkat kepercayaan diri tertinggi sejak 2019. Kinerja solid sepanjang 2025, yang ditopang oleh investasi teknologi dan fokus pada kepuasan pelanggan, menjadi fondasi utama di balik pandangan positif tersebut.

Temuan ini merupakan bagian dari Survei Usaha Kecil Asia-Pasifik ke-17 yang dirilis oleh CPA Australia. Survei tersebut memetakan tren usaha kecil di 11 ekonomi di kawasan Australia, Selandia Baru, dan Asia. Hasilnya menunjukkan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia tetap kuat, dengan 71 persen responden memproyeksikan pertumbuhan ekonomi, melampaui rata-rata Asia-Pasifik sebesar 65 persen.

"Imbal hasil investasi teknologi yang kuat dan cepat terus mendorong tingginya tingkat adopsi digital," ujar Priya Terumalay.

Sepanjang 2025, sebanyak 72 persen usaha kecil Indonesia melaporkan bahwa investasi teknologi mereka berdampak positif terhadap profitabilitas, jauh di atas rata-rata survei sebesar 56 persen. Meski demikian, investasi masih didominasi pada perangkat keras dan alat yang berhadapan langsung dengan pelanggan, seperti aplikasi gawai dan sistem pembayaran digital.

"Usaha kecil perlu lebih serius melirik teknologi yang meningkatkan produktivitas secara lebih dalam, seperti kecerdasan buatan, layanan berbasis cloud, dan perangkat lunak manajemen hubungan pelanggan. Teknologi-teknologi inilah yang erat kaitannya dengan bisnis berkinerja tinggi dan profitabilitas jangka panjang," kata Priya.

Di sisi lain, penggunaan pembayaran digital dan penjualan online sedikit mengalami penurunan pada 2025. Sekitar 69 persen usaha kecil memperoleh lebih dari 10 persen penjualan melalui platform pembayaran digital seperti GoPay, ShopeePay, OVO, DANA, LinkAja, dan WeChat Pay, turun dari 74 persen pada 2024. Sementara itu, proporsi usaha kecil yang meraup lebih dari 10 persen pendapatan dari penjualan online juga menurun dari 68 persen menjadi 64 persen.

Ancaman keamanan siber turut menjadi perhatian. Sebanyak 49 persen usaha kecil mengaku mengalami kerugian waktu maupun finansial akibat serangan siber sepanjang 2025. Namun, hanya 45 persen yang melakukan tinjauan perlindungan keamanan siber dalam enam bulan terakhir.

"Sebagai bagian dari investasi teknologi mereka, usaha kecil juga harus berinvestasi dalam langkah-langkah perlindungan yang memadai guna meminimalkan risiko siber," ujar Priya.

Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, penyerapan tenaga kerja juga meningkat. Sebanyak 40 persen usaha kecil menambah jumlah karyawan pada 2025, dan niat perekrutan diproyeksikan meningkat menjadi 52 persen pada 2026. Kebutuhan terhadap pembiayaan eksternal juga tetap tinggi, dengan 78 persen usaha kecil membutuhkan pendanaan dari luar sepanjang 2025.

Meski sentimen bisnis secara umum positif, aktivitas inovasi justru cenderung melemah. Hanya 28 persen pelaku usaha yang berencana memperkenalkan produk, layanan, atau proses baru yang unik di Indonesia tahun ini, turun dari 37 persen pada 2025.

"Kenaikan biaya operasional dan ketidakpastian global bisa menjadi faktor yang mendorong pelaku usaha untuk lebih berhati-hati dalam berinovasi," kata Priya.

Baca Juga: Kolaborasi ASEAN–Korea Dorong UMKM Go Green Lewat Energi Terbarukan dan Pembiayaan Berkelanjutan

Di tengah tantangan tersebut, struktur demografi menjadi salah satu kekuatan utama. Sebanyak 57 persen responden usaha kecil di Indonesia berusia di bawah 40 tahun, menjadi proporsi tertinggi di antara seluruh pasar yang disurvei.

"Para pengusaha muda Indonesia berada dalam posisi yang sangat baik untuk meraih hasil bisnis yang lebih optimal melalui fokus berkelanjutan pada kepuasan pelanggan, didukung oleh adopsi digital, strategi bisnis yang lebih matang, dan investasi modal yang berkualitas," tutup Priya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: