Ini Kata Trump Soal Opsi Penggunaan Bom Nuklir Amerika Serikat di Iran
Kredit Foto: Istimewa
Amerika Serikat buka suara terkait dengan opsi penggunaan senjata nuklir dalam perangnya melawan Iran. Pihaknya menegaskan bahwa hal itu tidak diperlukan karena kemenangan militer sudah bisa dicapai dengan cara konvensional.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak akan menggunakan senjata nuklir dalam perang melawan Iran. Ia menyebut kemenangan militer telah dicapai melalui cara konvensional tanpa perlu eskalasi ke senjata pemusnah massal.
Baca Juga: Reza Pahlavi Tuntut Eropa Ikut Perang Iran-Amerika Serikat
"Mengapa saya harus menggunakan senjata nuklir? Kami sudah menghancurkan mereka secara konvensional tanpa itu," kata Trump.
"Tidak, saya tidak akan menggunakannya. Senjata nuklir seharusnya tidak pernah digunakan oleh siapa pun," tambahnya.
Trump juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin terburu-buru dalam mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Ia menekankan pentingnya kesepakatan jangka panjang yang berkelanjutan.
"Jangan terburu-buru dengan saya," ujarnya.
"Saya ingin membuat kesepakatan terbaik. Saya bisa membuat kesepakatan sekarang, tetapi saya tidak ingin melakukannya. Saya ingin kesepakatan yang bertahan lama," tambah Trump.
Trump menyatakan bahwa kekuatan militer musuhnya telah melemah signifikan, termasuk angkatan laut, angkatan udara dan sistem pertahanan udara.
"Angkatan laut mereka sudah habis. Angkatan udara mereka sudah habis, pertahanan udara mereka sudah habis," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa jika mereka memperkuat persenjataannya selama masa gencatan senjata, pihaknya dapat dengan cepat menetralisirnya.
"Mungkin mereka menambah sedikit selama jeda dua minggu, tetapi kami bisa menghancurkannya dalam satu hari," ujar Trump.
Sikap Trump yang menolak penggunaan senjata nuklir namun tetap mempertahankan tekanan militer menunjukkan pendekatan ganda antara diplomasi dan kekuatan. Dunia kini menunggu apakah strategi ini akan menghasilkan kesepakatan damai atau justru memperpanjang konflik.
Adapun Ambrey Senior Analyst, Daniel Mueller cukup ragu dengan klaim kesuksesan militer dari Amerika Serikat. Ia menyoroti taktik yang digunakan baru-baru ini oleh Iran. Penggunaan kapal cepat ternyata sukses dalam menguasai kapal di Selat Hromuz.
Ppenggunaannya dalam penyitaan kapal baru-baru ini dilihat sebagai tanda bahwa kapal cepat kini menjadi tulang punggung strategi perang asimetris dari Iran. Selain kapal kecil, mereka juga mengandalkan rudal darat, drone, ranjau laut dan gangguan elektronik untuk menciptakan ketidakpastian di medan perang.
Mueller memperkirakan bahwa negara tersebut memiliki ratusan hingga ribuan kapal jenis ini sebelum perang dimulai, dengan sebagian disembunyikan di terowongan pesisir atau bercampur dengan kapal sipil.
Kecepatan tinggi membuat kapal-kapal ini mampu melakukan serangan cepat (hit-and-run) yang sulit dideteksi. Dalam operasi penyitaan kapal, biasanya digunakan sekitar selusin kapal kecil yang bergerak secara terkoordinasi.
Meski rentan terhadap serangan rudal berpemandu, kapal ini tetap berbahaya, terutama bagi kapal dagang yang tidak memiliki kemampuan pertahanan.
Selain itu, menghadapi kapal kecil jauh lebih sulit dibandingkan menghancurkan kapal perang besar. Target yang kecil, cepat dan tersebar membuat operasi militer menjadi lebih kompleks dan berisiko. Senjata portabel seperti peluncur rudal bahu yang dimiliki oleh kapan cepat ini juga dapat mengancam pesawat rendah milik Amerika Serikat.
Baca Juga: Patahkan Klaim Amerika Serikat, Taktik Kapal Cepat Iran Jadi Ancaman Baru di Selat Hormuz
Situasi ini meningkatkan risiko bagi industri pelayaran global. Selain gangguan operasional, biaya asuransi kapal diperkirakan akan melonjak akibat meningkatnya ancaman keamanan dari Selat Hormuz.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: