Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dunia Menuju Sistem Multipolar, Indonesia Dinilai Perlu Tata Ulang Hubungan Ekonomi dan Politik

Dunia Menuju Sistem Multipolar, Indonesia Dinilai Perlu Tata Ulang Hubungan Ekonomi dan Politik Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Meningkatnya dorongan sejumlah pemimpin dunia untuk mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat menjadi tanda perubahan lanskap geoekonomi dan geopolitik global. Situasi ini dinilai menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menata ulang strategi hubungan ekonomi-politiknya secara lebih mandiri dan berdaulat.

Ekonom Senior Pusat Kajian Keuangan, Ekonomi, dan Pembangunan Universitas Binawan, Farouk Abdullah Alwyni, menyebut arah global kini bergerak menuju sistem multipolar. Menurutnya, kekuatan tidak lagi terpusat pada satu negara dominan.

“Momentum ini perlu dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai negara berdaulat yang mampu menentukan arah kebijakan ekonominya sendiri,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4/2026).

Presiden Prancis Emmanuel Macron, misalnya, mendorong negara-negara di Asia dan Eropa agar tidak terus bergantung pada kebijakan AS yang kerap dipengaruhi dinamika domestik.

Di Asia Tenggara, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong juga mengingatkan pentingnya mempersiapkan skenario “the world minus one”, yakni dunia tanpa ketergantungan pada satu kekuatan utama.

Menteri Perdagangan Malaysia Tengku Zafrul Aziz bahkan berani menunjukkan sikap tegas dengan membatalkan kesepakatan tarif tertentu dengan Amerika Serikat.

Farouk menjelaskan, dinamika global juga memperlihatkan kecenderungan negara-negara Eropa untuk mengambil jarak strategis dari Amerika Serikat dalam berbagai isu geopolitik. Di sisi lain, Kanada mulai memperluas ruang kebijakan luar negeri secara lebih independen, terutama dalam isu perdagangan dan geopolitik tertentu.

Selain itu, poros kerja sama baru juga mulai terbentuk di antara kekuatan non-Barat. Hubungan antara China, Rusia, dan Iran disebut semakin menguat, mencakup sektor ekonomi, politik, hingga militer.

Dalam konteks tersebut, Farouk memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia mendorong evaluasi menyeluruh terhadap hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Amerika Serikat, serta pengurangan ketergantungan struktural terhadap kebijakan ekonomi AS yang dinilai fluktuatif dan unilateral.

Ia juga menyarankan agar Indonesia memperkuat kemitraan alternatif global, termasuk dengan negara-negara seperti China, Rusia, dan Iran, terutama di sektor perdagangan, energi, teknologi, dan pertahanan. Selain itu, Indonesia dinilai perlu aktif dalam kerja sama Selatan-Selatan dan blok ekonomi alternatif.

Baca Juga: Gegara Kebijakan Trump, Supporter Berisiko Ditahan Amerika Serikat Saat Piala Dunia 2026

Rekomendasi lainnya adalah peninjauan kembali kesepakatan tarif yang dianggap tidak menguntungkan kepentingan nasional, pengkajian ulang kerja sama strategis tertentu, serta penguatan prinsip politik luar negeri bebas aktif agar Indonesia tidak terjebak dalam rivalitas kekuatan besar.

Farouk menegaskan, langkah-langkah tersebut bukan merupakan bentuk konfrontasi terhadap Amerika Serikat, melainkan refleksi dari upaya menjaga kedaulatan nasional di tengah perubahan global.

“Momentum perubahan global harus dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang mandiri, berdaulat, dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: