Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Iran: Amerika Serikat Adalah Satu-satunya Negara Pengguna Senjata Nuklir

Iran: Amerika Serikat Adalah Satu-satunya Negara Pengguna Senjata Nuklir Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat terlibat adu pernyataan hingga mengkritik pihak dari Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal ini menyusul penunjukkan negara tersebut sebagai salah satu wakil presiden konferensi peninjauan dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Perwakilan Amerika Serikat, Christopher Yeaw mengecam keras keputusan penunjukkan dari Iran. Penunjukkan Iran diketahui berdasarkan keputusan kelompok negara non-blok dan negara lainnya.

Baca Juga: Tuntutan Masih Sama, Begini Kata Amerika Serikat Soal Proposal Baru Iran

"Ini merupakan penghinaan terhadap NPT. Tidak terbantahkan bahwa mereka telah lama menunjukkan ketidakpatuhan terhadap komitmen non-proliferasi dan menolak bekerja sama dengan badan pengawas nuklir dunia," katanya.

Penunjukan Iran menurutnya sangat memalukan dan merusak kredibilitas konferensi. Ia menyatakan bahwa pihaknya keberatan dengan hal tersebut.

Perwakilan Iran, Reza Najafi sendiri menolak tuduhan tersebut dan membalas pernyataan dari Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa pernyataan tersebut tidak berdasar dan bermotif politik. Hal ini mengingat kedua negara masih dalam status perang di Timur Tengah.

"Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir, mencoba memposisikan diri sebagai penilai kepatuhan," katanya.

Diketahui, Amerika Serikat berulang kali menegaskan penolakannya soal pengayaan nuklir dari Iran. Menurutnya, negara tersebut tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt baru-baru ini menegaskan bahwa tuntutan utama pihaknya tetap sama untuk mencapai damai dengan Iran. Washington ingin musuh menyerahkan uranium yang telah diperkaya dan membuka jalur dari Selat Hormuz.

Iran di sisi lain menuntut pengakuan atas haknya untuk memperkaya uranium untuk tujuan damai, sementara negara-negara sekutu khawatir aktivitas tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Adapun Badan International Atomic Energy Agency (IAEA) dan komunitas intelijen sebelumnya menyatakan negara tersebut pernah memiliki program pengembangan senjata nuklir yang dihentikan pada 2003.

Perselisihan Iran dan Amerika Serikat ini mencerminkan perbedaan mendasar yang masih sulit dijembatani antara kedua negara. Kontroversi ini juga berpotensi memengaruhi kredibilitas upaya global dalam mencegah penyebaran senjata nuklir.

Baca Juga: Harga Bitcoin Hari Ini (28/4): Rally Kembali Dipatahkan Negosiasi Amerika Serikat-Iran

Di sisi lain, dengan posisi kedua negara yang masih saling bertolak belakang, peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat tetap penuh tantangan dan menambah ketidakpastian jalan konflik di Timur Tengah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar