Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kesenjangan Implementasi Hambat Industri 4.0, Adopsi AI dan IoT Belum Menyentuh Lantai Produksi

Kesenjangan Implementasi Hambat Industri 4.0, Adopsi AI dan IoT Belum Menyentuh Lantai Produksi Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Transformasi Industri 4.0 di Indonesia menghadapi tantangan struktural, di mana adopsi teknologi seperti artificial intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) belum sepenuhnya menjangkau operasional di lantai produksi. Data menunjukkan hanya 39% pekerja manufaktur yang menilai tempat kerja mereka “sangat modern” pada 2024, turun dari 48% pada tahun sebelumnya, mencerminkan kesenjangan antara strategi digital perusahaan dan realisasi di lapangan.

Kondisi ini terjadi di tengah ambisi nasional untuk mempercepat digitalisasi industri melalui kerangka seperti Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Namun, implementasi teknologi dinilai masih terbatas pada tahap awal dan belum terintegrasi secara menyeluruh.

Vice President Asia Epicor, Vincent Tang, menyatakan kesenjangan tersebut menunjukkan transformasi digital belum berjalan optimal.

“Kesenjangan ini menunjukkan bahwa transformasi digital belum sepenuhnya menjangkau operasional di lapangan. Banyak organisasi masih berada di tahap awal implementasi,” ujar Vincent.

Menurutnya, kesenjangan antara persepsi manajemen dan pengalaman pekerja mencerminkan kegagalan dalam menskalakan inovasi. Karyawan telah terbiasa dengan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak menemukan hal yang sama di lingkungan kerja, sehingga menurunkan keterlibatan dan kepercayaan terhadap program transformasi.

Akar persoalan terletak pada implementasi teknologi yang masih terbatas pada proyek percontohan atau fungsi tertentu, sehingga tidak berdampak pada inti proses manufaktur.

“Transformasi tidak bisa berhenti di tahap eksperimen. Teknologi harus diintegrasikan langsung ke dalam alur kerja agar memberikan dampak nyata bagi bisnis,” kata Vincent.

Dari sisi kinerja, integrasi teknologi yang menyeluruh terbukti meningkatkan output, utilisasi, dan produktivitas hingga 10%–12%. Namun, capaian tersebut hanya terjadi jika implementasi dilakukan secara terkoordinasi di seluruh rantai nilai, bukan melalui investasi yang terfragmentasi.

Selain faktor teknologi, kesiapan tenaga kerja menjadi hambatan utama. Pada 2024, sebanyak 91% manajer menilai peningkatan keterampilan sebagai prioritas, tetapi hanya 70% pekerja yang memiliki pandangan serupa. Kesenjangan ini menunjukkan ketidaksinkronan dalam strategi transformasi.

“Tanpa kesiapan tenaga kerja, bahkan teknologi paling canggih sekalipun tidak akan memberikan hasil optimal. Transformasi harus berjalan seiring antara teknologi dan kapabilitas manusia,” ujar Vincent.

Untuk menutup kesenjangan tersebut, perusahaan didorong memperkuat fondasi digital melalui digitalisasi proses, konsolidasi data dalam sistem enterprise resource planning (ERP), serta integrasi perangkat IoT untuk meningkatkan visibilitas operasional secara real-time.

“ERP menjadi fondasi penting dalam transformasi digital karena memungkinkan integrasi data dan visibilitas operasional secara menyeluruh,” tambahnya.

Baca Juga: Industri 5G dan AI Dorong Ekonomi Digital Indonesia hingga US$41 Miliar

Baca Juga: Wamen PPPA Ingatkan Risiko AI Tanpa Nilai Kemanusiaan

Baca Juga: Microsoft: AI Bakal Ubah Sistem Keuangan

Namun, efektivitas implementasi bergantung pada pelatihan tenaga kerja dan manajemen perubahan yang memadai, agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal di seluruh organisasi.

Ke depan, AI, IoT, dan ERP diperkirakan akan menjadi standar dalam industri manufaktur, bukan lagi pembeda. Faktor penentu daya saing akan bergeser pada kemampuan perusahaan dalam mengimplementasikan dan menskalakan teknologi secara cepat dan efektif.

“Pertanyaannya bukan lagi teknologi apa yang diadopsi, tetapi seberapa cepat dan efektif teknologi tersebut diimplementasikan secara menyeluruh dalam operasional,” kata Vincent.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri