Kalbe Farma Tekan Kasus Influenza di Indonesia Lewat Vaksin Trivalent oleh Kalventis
Kredit Foto: Istimewa
Influenza masih menjadi ancaman kesehatan yang kerap dianggap ringan, padahal infeksi saluran pernapasan akut ini dapat menimbulkan komplikasi serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan influenza menyebabkan 290.000 hingga 650.000 kematian akibat gangguan pernapasan setiap tahun di tingkat global.
Di Indonesia, cakupan vaksinasi influenza masih tergolong rendah, yakni sekitar 0,5 per 1.000 populasi. Kondisi ini dinilai menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan dari influenza, terutama bagi kelompok rentan.
Untuk memperkuat upaya pencegahan, PT Kalbe Farma Tbk melalui anak usahanya, PT Kalventis Sinergi Farma (Kalventis), menghadirkan vaksin influenza trivalent (TIV) yang dirancang sesuai rekomendasi WHO.
Vaksin ini ditujukan untuk memberikan perlindungan terhadap tiga strain virus influenza yang masih aktif beredar, yakni influenza A (H1N1), influenza A (H3N2), dan influenza B/Victoria. Ketiga strain tersebut diketahui berisiko memicu komplikasi serius, terutama pada kelompok dewasa, lansia, serta individu dengan penyakit penyerta atau komorbid.
Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma Vidi Agiorno mengatakan upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa influenza bukan sekadar flu biasa.
“Kalbe melalui Kalventis ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa influenza dapat berdampak serius, khususnya pada dewasa dengan penyakit penyerta dan kelompok lansia. Vaksinasi adalah langkah perlindungan yang penting untuk mencegah komplikasi serta menekan risiko rawat inap,” tutur Vidi saat acara Media Discussion di Hotel Ashley Tanah Abang, Jakarta, Senin (4/5/2026).
Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD, Subsp.AI(K), FINASIM, menegaskan bahwa influenza berbeda dengan selesma biasa.
“Influenza bukan selesma (common cold). Pada pasien common cold, jarang terjadi demam dan sakit kepala. Sedangkan pada pasien influenza, sering kali demam tinggi secara tiba-tiba yang biasanya berakhir dalam 3-4 hari dan sering kali pasien mengalami sakit kepala,” jelasnya.
Ia menambahkan, influenza pada kelompok dewasa dan lansia dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, perburukan penyakit kronis, hingga kejadian kardiovaskular akut. Karena itu, vaksinasi influenza tahunan dinilai menjadi langkah pencegahan utama untuk menekan risiko rawat inap dan kematian.
Prof. Iris juga menegaskan bahwa perubahan dari vaksin quadrivalent ke trivalent dilakukan berdasarkan dasar ilmiah yang kuat. Menurutnya, keputusan tersebut diambil karena virus influenza B/Yamagata tidak lagi terdeteksi sejak Maret 2020.
“Sejak Maret 2020 sampai sekarang, tidak ditemukan lagi virus influenza B Yamagata yang bersirkulasi secara alami. Kalau virusnya sudah tidak ada, untuk apa dimasukkan dalam vaksin? Itu logika ilmiahnya,” jelasnya.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI, dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD-KAI, menambahkan bahwa influenza di Indonesia beredar sepanjang tahun sehingga vaksinasi tahunan menjadi langkah perlindungan utama.
“Influenza di Indonesia bukan penyakit musim dingin seperti di negara lain. Virus ini beredar sepanjang tahun, sehingga vaksinasi tahunan menjadi perlindungan utama,” ujarnya.
Baca Juga: Punya Payung Hukum Kuat, BPOM Sebut Industri Vape Tak Bisa Dilarang Total
Menurutnya, vaksin influenza memang tidak sepenuhnya mencegah infeksi, namun efektif mencegah kondisi ringan berkembang menjadi berat, mengurangi risiko rawat inap, dan menekan potensi kematian.
Terkait keamanan, dr. Sukamto memastikan vaksin trivalent tetap aman digunakan.
“Efek sampingnya ringan dan tidak berbeda, bahkan dibandingkan dengan placebo. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: