Alarm PHK 3 Bulan ke Depan! KSPI Bongkar Dampak Perang Timur Tengah ke Buruh RI
Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Bayang-bayang gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai menghantui pekerja Indonesia, dengan sinyal awal sudah terasa di sejumlah industri dalam waktu dekat. Tekanan ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan dipicu oleh gejolak global yang menjalar hingga ke sektor riil dalam negeri.
Konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memperparah situasi ekonomi, terutama melalui lonjakan harga bahan baku dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dampaknya langsung terasa pada industri yang bergantung pada impor, sehingga biaya produksi meningkat dan margin usaha tergerus.
Industri plastik menjadi salah satu sektor yang paling terdampak akibat ketergantungan tinggi pada bahan baku impor berbasis dolar Amerika Serikat. Ketika rupiah melemah, pelaku usaha menghadapi dilema antara menaikkan harga jual atau menanggung kerugian yang berujung pada efisiensi tenaga kerja.
“Kemudian industri plastik, karena harga bahan baku plastik naik tajam, sehingga industri kesulitan. Dia kan bahan bakunya impor, polimer impor, petrokimia banyak yang impor. Begitu diproduksi, impor kan berarti beli barangnya pake dolar, jualnya di pasar domestik pakai rupiah, sedangkan harga rupiah anjlok terhadap dolar, ya buntung lah, makanya harga plastik naik,” jelas Said Iqbal dalam konferensi pers virtual, Senin (4/5/2026).
Kenaikan harga plastik bahkan disebut telah mencapai titik yang memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat di tingkat bawah. Penurunan daya beli ini kemudian memukul permintaan dan memperbesar risiko PHK di sektor tersebut.
“Nah kalau harga plastik naik sampai 50%, daya beli masyarakatnya jadi menurun. Ada ibu-ibu cerita yang jualan di pasar biasa bungkus pake plastik, sekarang pake daun. Nah itu kan plastik turun. Itu kan ancaman PHK di industri plastik,” sambung dia.
Efek domino dari kondisi ini tidak berhenti di satu sektor, melainkan merembet ke industri lain seperti elektronik dan otomotif yang menggunakan komponen berbahan plastik. Ketergantungan lintas sektor ini membuat tekanan ekonomi semakin meluas dan sulit dikendalikan dalam waktu singkat.
“Begitu pula industri elektronik bisa kena. Mudah-mudahan perang bisa kembali damai, selesai sehingga bisa turun harga plastik. Tapi nggak semudah itu kata perusahaan-perusahaan, dalam 3 bulan kepada serikat pekerja, di elektronik kan pakai plastik frame nya. Di otomotif spakbor, beberapa komponen lain juga pake plastik,” bebernya.
Di saat yang sama, sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) juga menghadapi ancaman serupa akibat perlambatan permintaan dan tekanan eksternal. Perusahaan bahkan disebut mulai membuka komunikasi dengan pekerja terkait kemungkinan pengurangan tenaga kerja.
"Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester dan sebagainya," katanya.
Baca Juga: AI Kembali Makan Korban, Giliran Karyawan Meta Akan Kena PHK
Selain itu, industri semen turut tertekan akibat kondisi kelebihan pasokan di tengah permintaan yang melemah. Masuknya pemain baru di saat pasar lesu justru memperketat persaingan dan mendorong langkah efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja.
"Apalagi sekarang dalam suasana perang. Permintaan terhadap semen kan berkurang. Udah mah oversupply, pabrik baru bikin lagi kemudian izinnya diberikan dan mulai operasional, permintaan semen akibat semen turun. Ya otomatis terjadi efisiensi buruh dan pekerja ya PHK," sebut dia.
Dengan berbagai tekanan tersebut, potensi gelombang PHK dalam waktu dekat semakin nyata dirasakan oleh para pekerja di lapangan. Namun hingga kini, kalangan buruh mengaku belum menerima respons konkret dari pemerintah terkait ancaman tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: