Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hebohkan Dunia, Ini Segala Hal yang Perlu Diketahui Masyarakat Soal Hantavirus

Hebohkan Dunia, Ini Segala Hal yang Perlu Diketahui Masyarakat Soal Hantavirus Kredit Foto: Annisa Nurfitri

Dua Jenis Utama Hantavirus

Kementerian Kesehatan menjelaskan terdapat dua manifestasi klinis utama hantavirus.

1. Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)

Jenis ini banyak ditemukan di Asia dan Eropa. Virus yang umum menyebabkan HFRS antara lain Hantaan, Seoul, Puumala, Dobrava, dan Saarema.

HFRS menyerang ginjal dan dapat menyebabkan gangguan ginjal akut.

Gejala awal meliputi:

  • sakit kepala berat,
  • nyeri punggung dan perut,
  • demam,
  • menggigil,
  • mual,
  • penglihatan kabur,
  • mata merah,
  • ruam,
  • wajah kemerahan.

Dalam kondisi berat, pasien dapat mengalami:

  • tekanan darah rendah,
  • syok,
  • pecah pembuluh darah,
  • gagal ginjal akut.

Tingkat kematian HFRS berkisar 5%-15% tergantung jenis virusnya.

2. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)

Jenis ini banyak ditemukan di kawasan Amerika dan menyerang paru-paru.

Virus penyebab utamanya adalah Andes dan Sin Nombre.

Gejala awal HPS meliputi:

  • kelelahan,
  • demam,
  • nyeri otot,
  • nyeri paha,
  • nyeri punggung,
  • nyeri bahu.

Empat hingga 10 hari setelah gejala awal, pasien biasanya mengalami:

  • batuk,
  • sesak napas,
  • paru-paru dipenuhi cairan,
  • gangguan jantung,
  • penurunan aliran darah.

Kementerian Kesehatan menyebut tingkat kematian HPS jauh lebih tinggi dibanding HFRS, yakni mencapai 40%-50%.

Gejala hantavirus umumnya muncul 1-8 minggu setelah seseorang terpapar virus.

Untuk HFRS, gejala biasanya muncul dalam 1-2 minggu, sementara HPS bisa muncul hingga delapan minggu setelah paparan.

Baca Juga: Sudah Tewaskan 3 Orang, WHO sebut Hantavirus Bisa Tularkan Antarmanusia dan Belum Ada Obatnya

Baca Juga: Waspada Hantavirus, Virus Langka dan Mematikan di Balik Wabah Kapal Pesiar di Afrika

Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi antara lain:

  • pekerja gudang,
  • pekerja konstruksi,
  • petugas pengendali hama,
  • masyarakat yang membersihkan rumah kosong,
  • orang yang sering berkemah atau mendaki.

Risiko meningkat saat musim hujan atau cuaca dingin karena tikus cenderung masuk ke rumah untuk mencari tempat hangat.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: