Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Beda Usia Beda Gaya, Bos OpenAI Ungkap Cara Unik Tiap Generasi Pakai ChatGPT

Beda Usia Beda Gaya, Bos OpenAI Ungkap Cara Unik Tiap Generasi Pakai ChatGPT Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

CEO OpenAI Sam Altman menyoroti fenomena keberagaman gaya penggunaan ChatGPT yang dipengaruhi oleh faktor usia penggunanya. Berdasarkan pengamatannya, setiap generasi memiliki pendekatan yang sangat kontras dalam memanfaatkan kecerdasan buatan tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.

Altman menjelaskan bahwa kelompok usia yang lebih tua cenderung memanfaatkan ChatGPT sebagai alat pencarian informasi layaknya Google. Sebaliknya, pengguna berusia 20 hingga 30 tahun lebih sering menempatkan platform ini sebagai penasihat hidup untuk berkonsultasi mengenai berbagai hal.

Kelompok mahasiswa menunjukkan perilaku yang paling kompleks dengan menggunakan ChatGPT layaknya sebuah sistem operasi. Mereka memiliki cara khusus dalam menghubungkan platform tersebut ke berbagai file serta menyimpan instruksi atau prompt rumit untuk mendukung aktivitas akademis mereka.

Ketergantungan pengguna muda terhadap teknologi ini didorong oleh fitur memori yang mampu menyimpan konteks percakapan di masa lalu. Hal ini memungkinkan ChatGPT membangun pemahaman mendalam mengenai kehidupan serta setiap topik yang pernah dibicarakan penggunanya.

Baca Juga: ChatGPT Memprediksi Lukisan Denny JA yang Diberkati Paus Fransiskus Bernilai Puluhan Milar Rupiah

Laporan internal OpenAI tahun 2025 menyebutkan bahwa mahasiswa di Amerika Serikat merupakan kelompok pengguna paling dominan. Lebih dari sepertiga individu dalam kelompok usia 10 hingga 24 tahun tercatat aktif menggunakan layanan ini untuk berbagai keperluan personal.

Meski bermanfaat untuk saran umum, para pakar tetap memperingatkan adanya risiko etis dalam pengambilan keputusan besar lewat AI. Beberapa studi menekankan pentingnya verifikasi ahli karena model bahasa dianggap belum memiliki empati yang sesungguhnya untuk masalah kehidupan yang kompleks.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy

Tag Terkait: