- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Logam Tanah Jarang Mamuju Segera Diolah, Ternyata Isinya Bukan Sembarangan
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Badan Industri Mineral (BIM) mengungkapkan tindak lanjut pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ) atau rare earth element (REE) di Indonesia. Salah satu wilayah yang kini diprioritaskan untuk dikembangkan adalah Mamuju, Sulawesi Barat.
Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto mengatakan pihaknya tengah menyiapkan proyek percontohan atau pilot project pengembangan LTJ di Mamuju.
"Mamuju nanti kita inikan (umumkan) ya kalau sudah siap semua, kita akan bangun pilot (project),'' ucap Brian di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Dalam catatan Warta Ekonomi, Blok Mamuju memiliki kandungan REE sekitar 2.000 ppm di area seluas 23.000 hektare, menjadikannya salah satu kawasan potensial pengembangan LTJ nasional.
Sebelumnya, Brian menyebut proyek tersebut akan dijalankan bersama Perusahaan Mineral Nasional (PERMINAS) dengan melibatkan sejumlah perguruan tinggi dalam negeri.
“Dalam waktu dekat akan segera kita lakukan, yaitu Pilot Teknologi Hilirisasi Rare Earth yang ada di Mamuju,” ujar Brian dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (9/2/2026).
Di DPR, Brian bilang, proyek percontohan tersebut direncanakan berlangsung selama enam bulan guna menguji teknologi Ion Adsorption Clay (IAC), yakni metode ekstraksi LTJ yang terikat pada mineral lempung. Selain itu, proyek juga akan membandingkan metode in-situ atau ekstraksi langsung di bawah tanah tanpa memindahkan lapisan tanah dengan metode ex-situ yang dilakukan di permukaan.
Pengujian itu ditujukan untuk menghasilkan dasar teknis bagi arah kebijakan hilirisasi LTJ nasional. Teknologi yang dikembangkan perguruan tinggi dalam negeri nantinya digunakan untuk mengekstraksi bijih menjadi Mixed Rare Earth Oxide (MREO) maupun Total Rare Earth Oxide (TREO). Produk tersebut merupakan campuran oksida logam tanah jarang yang telah dipisahkan dari mineral pengotornya, namun belum menjadi elemen tunggal.
Brian menjelaskan potensi LTJ di Mamuju tergolong menjanjikan karena memiliki variasi unsur yang lengkap, baik light rare earth maupun heavy rare earth.
“(Logam tanah jarang di sana) ada light dan ada heavy. Jadi, ya, di sana ada yang banyak dicari, itu kan NDPR (Neodymium–Praseodymium), TBDY (Terbium–Dysprosium), begitu,” katanya.
Sebagai informasi, unsur light dan heavy rare earth elements tersebut merupakan komponen utama dalam pembuatan magnet permanen yang digunakan pada motor kendaraan listrik hingga peralatan militer berteknologi tinggi.
Blok Mamuju sendiri menjadi satu dari delapan blok prioritas nasional pengembangan LTJ. Secara keseluruhan, BIM memproyeksikan Indonesia berpotensi menguasai hingga 5% pangsa pasar global dari pengembangan delapan blok LTJ tersebut.
Baca Juga: Pemerintah Mulai Bahas Pengembangan Logam Tanah Jarang di Mamuju Sulawesi Barat
Baca Juga: PT Timah Gelar Groundbreaking Logam Tanah Jarang pada 20 Mei 2026
Hilirisasi sektor LTJ juga diperkirakan mampu memberikan kontribusi ekonomi signifikan bagi negara. Proyek percontohan di Mamuju dipandang sebagai langkah awal untuk membuktikan kesiapan Indonesia menjadi pemain strategis dalam rantai pasok global mineral kritis.
''Target nilai hilirisasi di Indonesia itu, kalau kita hitung, seharusnya Indonesia bisa menangkap hingga 7,42 miliar dolar AS pada 2030 dari industri rare earth maupun turunannya,” pungkas Brian.
Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno mengungkapkan Mamuju memang menjadi salah satu lokasi yang tengah dibahas untuk pengembangan LTJ nasional.
Hal itu disampaikan Tri usai menghadiri pertemuan bersama Panglima TNI Agus Subiyanto, Brian Yuliarto, dan sejumlah pejabat negara di BP BUMN, Selasa (12/5/2026).
"Pembahasan ini aja, (terkait) Mamuju. Inilah, pengembangan seperti apa rare earth element kira-kira gitulah,'' ungkap Tri.
Namun, Tri belum membeberkan lebih jauh detail proyek tersebut. Ia menegaskan dirinya hanya hadir sebagai pihak yang diundang dalam pembahasan itu.
''Ya saya kan diundang, (soal LTJ Pak?) iya, (silahkan) ke Pak Brian,'' imbuhnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra